Archive for ‘cerpen’

Minggu, 19 Oktober 2008

Kereta Terakhir dari Jakarta

oleh enuy

By: O. Solihin

image-upload-15-741817(2).jpgOgi mondar-mandir gelisah sambil sesekali melirik arloji di tangannya. Sapuan angin malam mulai terasa dingin di kulit Ogi. Pandangan matanya dilemparkan ke dalam stasiun. Sudah agak lengang. Jam sudah menunjukkan pukul 21 tepat. Sepuluh menit kemudian muncul sesosok makhluk berlari-lari kecil menuju sta­siun Kota. Wajahnya lumayan cute dengan rambut yang agak ikal. Ia terus berlari dan memasuki stasiun.

“Assalamu’alaikum!” suara yang sangat akrab di telinga Ogi terdengar dari belakang.

“Eh, wa’alaikum salam!” jawab Ogi sambil membalikkan tubuh.

“Kelelep di mana, Mil?” Ogi setengah kesal.

“Tenang, sobat. Tadi aku ada perlu dulu. Dikirain sebentar, eh ternyata lama juga. Afwan, deh, afwan,” Jamil ngasih alasan.

“Ayolah, beli karcis dulu. Jangan-jangan kita dapat kereta yang terakhir, lagi,” kata Ogi sambil ngeloyor menuju loket.

“Oke bos!” balas Jamil.

read more »

Iklan
Kamis, 16 Oktober 2008

Putus

oleh enuy

Oleh: Arif

“Kita harus berhenti. Harus berani berpisah. Aku sudah menjelaskan padamu semuanya. Tidak ada bedanya kalau sekarang harus memberikan penjelasan lagi,” kataku padanya di suatu sore. Waktu serasa lambat berputar. Aku dengannya di sebuah kafe.

“Tapi aku menyayangi kamu.”

“Aku tahu. Aku juga menyayangi kamu. Karena itu aku menawarkan padamu, kita mengkaji Islam bersama-sama.”

“Kalau aku ngaji, apa kamu masih tetap menginginkan kita berpisah?”

“Ya.”

“Sudah tidak ada artinya cinta buatmu?”

“Cinta saja tidak cukup untuk apa yang menjadi keinginanku saat ini. Harusnya kita memang mendasarkan hidup kita dengan cinta. Cinta pada Allah, Rasulullah, pada Islam. Aku sudah mengatakannya padamu sebelum aku berjilbab. Dan aku tidak akan menariknya kembali. Kita jalan sendiri-sendiri mulai sekarang,” aku berusaha menguatkan hati. Meskipun aku merasa lumer di hadapannya. Begitu lemahnya, hingga merasakan pandanganku kabur oleh air mata. Tapi aku tidak akan menangis. Tidak boleh menangis.

read more »

Senin, 30 Juni 2008

Puzzle

oleh enuy

By: 341

“Bi…, bantuin Umi ya bikin puzzle buat minggu depan” rengek istriku semalam. Baru aja doi dua bulan kuliah di PGTK Darul Qalam. Tapi tugas-tugas dari dosen yang memeras keringat, waktu, tenaga, pikiran, dan isi dompet udah ngantri setiap minggunya.  

Dan sore ini, aku tengah berburu tukang lukisan buat bikin gambar puzzle. Seingatku, biasanya suka ada pelukis amatir yang buka galeri misbuk (kalo gerimis pada sibuk mengevakuasi lukisannya) di pinggir jalan. Tapi sayangnya, perburuan sore itu tanpa hasil. Sepertinya para pelukis amatir itu kapok kali jualan di Kota Hujan ini. Lagian, orang mah ngelukis pake cat minyak, ini pake cat tembok. Ya luntur kalo keujanan.

Dalam kebuntuan, tiba-tiba aku teringat pada salah satu adik pengajianku di Ponpes Miftahul Falah yang jago ngelukis. Tanpa ba-bi-bu apalagi pa-pi-pu, langsung kubelokkan motorku ke arah Ma’had di Layung Sari.

read more »

Minggu, 29 Juni 2008

Botak

oleh enuy

By: Poejy

Gedubrak!…kepalaku benjol seketika, aku terjatuh dari tempat tidur, sambil mengaduh kesakitan. Kutendang ranjang sebagai luapan kekesalanku. Segera aku bergegas mengambil handuk dan ke kamar mandi. Lumayan aku tidak perlu antri, karena santri-santri lain masih terlelap dibuai mimpi dan siap-siap akan menerima keusilanku, hal yang sama yang sering dilakukan oleh santri yang bangun lebih dulu.

Sayup-sayup kudengar suara azan di Masjid Agung. Kucipratkan sisa-sisa air di kulitku ke temen-temen sekamarku, kontan saja mereka marah-marah, sebagian dari mereka melemparkan bantal ke arahku sekenanya, dan dalam waktu sekejap terjadi perang dunia kedua di kamarku.

Ojo berisik….!” teriakan Kang Abu menghentikan aksi kami, satu persatu dari kami pun bergegas mengambil handuk dan ke kamar mandi.

“Yono! Kesini kamu..” panggilan Kang Abu menghentikan langkahku yang siap-siap berangkat ke sekolah. “Pulang sekolah, kamu dan semua teman sekamarmu temui aku di kantor pesantren.”

read more »

Sabtu, 28 Juni 2008

E-mail dari Leony

oleh enuy

By: O. Solihin

“Wah, Jamil kirim e-mail neh. Tumben banget tuh anak. Biasanya doi lebih suka nelpon or kirim SMS…” dalam dadanya ada sedikit tanda tanya.

“Coba aku lihat.. penasaran juga. Apalagi nih subjek-nya tentang Cinta. Waduh, nih anak lagi kasmaran kali ye…” Ogi ngomong sendiri. Sedikit senyumnya menghias wajahnya yang memang cool. Kata temen-temennya, Ogi tuh mirip Ashton Kutcher, tapi…. bagian jempol kakinya doang (hi..hi..hi.. kasihan deh lu..).

Sejurus kemudian tangannya udah bergerak dengan mouse dan mengklik e-mail dari sahabat dekatnya itu.

“Wah, Jamil mulai ngomongin soal cinta. Sejak kapan dikau romantis Mil?” Ogi cengengesan sendiri.

Gi.. nih ada puisi bagus buat menggambarkan perasaan cinta… Ini karya Sapardi Joko Damono. Itu lho.. yang sekarang suka dipakai temen-teman untuk merayu pasangannya. Sebab, di televisi juga selalu ditayangkan menjelang Valentine’s Day ini…Siapa tahu kamu mau make juga buat.. ehm…J

Nih puisi bagus itu…

Aku Ingin

aku ingin

mencintaimu

dengan sederhana,

dengan kata

yang tak sempat

disampaikan kayu kepada api,

yang menjadikannya abu.

aku ingin

mencintaimu

dengan sederhana

dengan isyarat

yang tak sempat

disampaikan awan

kepada hujan

yang menjadikannya tiada

 

He..he..he.. moga kamu nggak bete-bete amat dengan puisi ini Gi..

 

Jamil

“Wah, wah, wah, Jamil bener-bener latah neh. Pake ngomongin soal cinta segala. Mana ngirim puisi lagi, ngomporin aku pula. Dasar. Hmm.. aku akan balas…” Ogi kembali ngomong sendiri dengan senyum dikulum.

read more »

Jumat, 27 Juni 2008

Requiem Aeternam Deo!

oleh enuy

By: Moenir

Imagine there’s no countries,                                                    

It isnt hard to do,

Nothing to kill or die for,

No religion too,

Imagine all the people

living life in peace…

 

Ugh, sudah dua malam aku tak bisa tidur. Suara gitar anak-anak tongkrongan dari seberang jalan selalu mengganggu. Apa sih maunya mereka? 1, 2, 3… sekitar 6 orang. Oh, andai mereka tahu, a..ku tersiksa…!

Kuraih wekerku, “Masya Allah, sudah jam tiga pagi, tapi mengapa suara gitar itu masih terdengar? Ya Allah, kapan aku akan tidur?” akhirnya aku bangkit dari ranjang dan duduk lagi di tepinya.

Anak-anak tongkrongan itu terus saja memainkan gitarnya, tanpa lagi peduli orang lain di sekitarnya. Tapi yang membuat aku bingung, apakah semua warga di sini merasa nyaman, atau sudah terbiasa dengan suara ribut anak-anak itu? Hmm.. Mataku berkaca-kaca, perih menahan kantuk. Anganku melayang, menembus masa lalu yang tidak jauh beda dengan anak-anak itu. Satu nama yang terlintas dalam diari neuronku. “Deni”. Makhluk gondrong berkaca-mata, lugas dan berani, bergaya bak Che Guevara dengan Army Jacketnya. Ah, di mana dia sekarang? Padahal dulu kami selalu bersama. Tinggal sekos, makan dan minum bersama, bahkan kami berdua pun terjun ke dunia malam di kota Bandung bersama. Nongkrong bareng makhluk-makhluk ‘Sparta’ di BIP, berpogo di GOR Saparua, sampai bareng-bareng uji nyali anarchysme-nya Bakunin.

read more »

Kamis, 26 Juni 2008

Luruh

oleh enuy

By: Ria Fariana

Brak! Buka pintu! Suara itu memecah keheningan tengah malam. Seorang pemuda berumur 20-an tahun berdiri bersandar pada daun pintu yang kokoh itu sambil meracau tak karuan.

Brak brak brak! Kembali tangannya menggedor-gedor pintu yang tak kunjung terbuka. Setelah itu ia kembali menyanyi-nyanyi lagi dengan sembarangan, khas orang yang berada di bawah pengaruh alkohol. Beberapa saat kemudian, seorang wanita setengah baya berlari-lari dari dalam rumah untuk membuka pintu. Di belakangnya menyusul Tari yang masih memakai baju tidur. Setelah pintu berhasil dibuka, tubuh limbung Diko, nama pemuda itu, roboh kalau saja tak segera ditangkap oleh Tari dan perempuan setengah baya itu.

“Mas Diko, mabuk lagi?” suara Tari lirih sambil berusaha memapah, tepatnya setengah menyeret tubuh Diko ke sofa ruang tamu.

read more »