Archive for ‘catatan harian’

Rabu, 3 Oktober 2007

Celoteh Anak

oleh enuy

Asslamualaikum wr wb

Berbicara dengan anak-anak selalu ada hal yang unik. Misalnya ada ungkapan-ungkapan yang menurut kita tak perlu dipikirkan, ternyata malah menjadi pemikiran anak-anak. Tak terduga dan sangat lucu.

Ada beberapa pengalaman yang menurutku sangat unik dan lucu. Sehingga merasa perlu untuk disampaikan di blog sebagai catatan harianku:

1. Aku sedang menonton film di televisi menemani anak pertamaku, Qais. Usianya menjelang 7 tahun (nanti tepatnya insya Allah tanggal 12 Oktober). Saat itu, yang sedang kami tonton adalah film Indian. Seperti biasa dalam cerita suku Indian hampir pasti selalu digambarkan rambutnya panjang, baik laki-laki maupun perempuan. Waktu itu Qais nyeletuk mendengar komentar dariku tentang rambut orang Indian yang panjang-panjang. “Mi, emang di sana nggak ada tukang cukur ya?” 🙂

2. Anak keduaku juga sedang aku temani nonton sebuah film animasi tentang kuda. Kalo nggak salah waktu itu judulnya Spirit. Nah, pas ada kuda yang melahirkan anaknya di rumput, Rafi (4 tahun), anak keduaku itu nyeletuk, “Mi, dulu Rafi pas lahir di rumput juga?” 🙂

3. Teman anakku, namanya Sultan, waktu aku kasih uang, aku tanya: “Uangnya buat apa Sultan?” dia menjawab, “Buat jajan!” “Terus, selain buat jajan apa?” aku tanya lagi karena ingin memastikan dia akan menjawab ditabung misalnya. Karena kebiasaan aku kepada anak-anakku adalah mereka harus menyisihkan uang jajannya untuk ditabung. Tapi… jawaban Sultan, teman anakku itu, “buat beli permen!” 🙂

Mungkin ini saja catatan harianku, semoga bermanfaat bagi siapa saja. Siapa tahu ada yang terinspirasi. Kalo suamiku sih udah jujur bilang kalo itu menjadi inspirasinya untuk menulis cerita anak katanya 🙂

Nur

Jumat, 7 September 2007

Mengajak Buah Hatiku Menghargai Waktu

oleh enuy

dscn1133a.jpgKami merasa bersyukur karena Allah Swt. yang telah memberikan kami keluarga yang bahagia. Kebahagiaan itu salah satunya ada pada ketiga buah hati kami: Qais (7 tahun), Rafi (4,5 tahun), dan Sausan (2 tahun). Bermain dan bercengkrama dengan mereka tak pernah membuat saya merasa bosan. Meski ada saja kenakalan-kenakalan atau kerewelan khas anak-anak yang mereka lakukan setiap hari. Tapi itu tak membuat saya merasa jera dan pusing karena saya sudah memiliki komitmen bahwa memiliki anak dalam pernikahan ini adalah pilihan. Jika pilihan berarti mau tidak mau saya (dan juga suami) harus siap untuk membina, mendidik, dan mengarahkan untuk masa depan mereka yang lebih baik.Perilaku kurang baik yang dilakukan anak-anak saya itu salah satunya adalah dalam menghargai waktu. Dua anak lelaki saya yaitu Qais dan Rafi, mereka nampak asyik kalau sudah di depan televisi menonton acara kesukaannya. Saking asyiknya, serasa dunia bagai milik mereka berdua. Sapaan salam dan panggilan sayang saya sebagai ibunya tak pernah digubris. Dampak negatif lainnya semua jadwal yang seharusnya mereka lakoni jadi tidak terlaksana. Saatnya mereka harus mandi, makan, bermain dan belajar tidak mereka hiraukan. Sholat juga seringnya ditunda saja.

read more »

Rabu, 1 Agustus 2007

Ariani dalam kenanganku

oleh enuy

<!–[endif]–>

nur-ari-mamay1.jpgPertemuan dengan Ariani Tri Astuti pertama kali ketika masuk SMAKBo (Sekolah menengah Analis Kimia Bogor) tahun 1992. Saya dan Ari duduk satu kelas 1B. Wali kelasnya Bu Wiwi (istrinya Pak Mido). Kami makin akrab karena tinggal satu kos di Wisma Melati selama 4 tahun (kelas satu sampe kelas 4), kamarnya berhadap-hadapan. Kalo orangtua masing-masing nengok kami, kami sering berbagi makanan dan minuman, termasuk berbagi cerita.

read more »