Archive for ‘buletin gaulislam’

Kamis, 12 Februari 2009

Valentine and Palestine

oleh enuy

gaulislam edisi 069/tahun ke-2 (20 Safar 1430 H/16 Februari 2009)

There were no valentinesfor the kids in palestine

no v-cards

no valentines day

there were no candy hearts

for the old decripit ones

no candy

no cinnamon buns

all you little boys and girls

we’ll give you all our candy pearls

pearls pearls pearls pearls pearls

we’ll give you candy pearls

where has all the candy gone?

candy candy candy

where has all the love gone?

Pernah dengar lagu dari lirik di atas? Nggak usah minder kalo belum, karena lagu ini memang bukan major label alias indie. Genrenya juga abstrak, bukan termasuk pop, rock, rap apalagi dangdut. Bahkan si penyanyi yaitu Tishomingo juga nggak jelas asal usulnya. Suaranya pun sangat cempreng dan nggak asik untuk didengar. Tapi at least, kita jadi tahu apa yang dia mau dari lirik lagu ciptaannya ini. Ia masih mau peduli dengan nasib jutaan manusia di Palestina, yang bagi zionis Israel dengan dukungan Amerika ingin dimusnahkan hingga akar-akarnya. Gimana nggak, bila bayi merah pun mereka bunuh dengan tangan dingin.

Terlepas dari sejarah asal-usul Valentine, hari ini diyakini oleh banyak orang sebagai hari kasih sayang. Hari yang penuh dengan permen, coklat, boneka, benda-benda berbentuk hati, dan warna pink. Budaya yang awal mulanya dari Italia dan kemudian dikomersilkan oleh Amerika ini semakin mendunia. Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia pun jadi latah ikut-ikutan. Seakan-akan bila belum ikut merayakan hari Valentine, hidup serasa kurang pas, nggak gaul dan siap dicap kuno.

read more »

Iklan
Senin, 9 Februari 2009

Teman Tapi Setan

oleh enuy

gaulislam edisi 068/tahun ke-2 (13 Safar 1430 H/9 Februari 2009)

Punya temen tuh asik, Bro. Gue juga ngerasain bedanya antara banyak temen dan sedikit temen. Apalagi gue ngerasa jadi kayak jaga kuburan kalo hidup sendiri. Sumpah (tapi nggak dirangkai dengan kata pocong!), gue hidup berasa lebih hidup kalo punya teman. Gue nggak manyun melulu kayak bemo lagi nunggu penumpang (yee. bemo mah dari lahir emang udah manyun bin monyong, Nek!). Elo pasti pernah ngerasain hidup sendiri tanpa teman. Misalnya aja, elo baru masuk ke sekolah baru, atau ikut ortu yang pindah rumah ke lingkungan baru, atau ke tempat kerja baru. Pastinya, meski tuh banyak orang tapi kan perlu adaptasi untuk bisa jadi teman. Iya nggak sih? Makanya, asik banget kalo punya teman, apalagi bisa dijadiin sahabat akrab. Udah kebayang kan gimana enaknya? Senang banget kan?

Bro, nah gue selama ini berpikir bahwa punya banyak teman bakalan asik-asik aja. Ternyata? Hehehe… gue kudu sedikit ngeralat nih. Soalnya, ternyata dari sekian banyak teman, suka ada aja yang bikin rese dan malah sering bikin malu dan membahayakan kita. Baik secara kehormatan maupun fisik. Iya, elo pernah nggak punya teman, tapi tuh orang sering nyatut nama kita untuk urusan tertentu dengan pihak ketiga?

read more »

Senin, 2 Februari 2009

Akibat Terlalu Sehat

oleh enuy

gaulislam edisi 067/tahun ke-2 (6 Safar 1430 H/2 Februari 2009)


Akhir-akhir ini gue ngerasa banget gimana nikmatnya sehat, entah kenapa selama ini ngga nyadar (pingsan kali ye) kalo sehat itu nikmat banget. Gue bisa jalan ke sono ke mari, main petak umpet, nyebur ke septic tank sampe main layangan sambil mandi. Betapa nikmatnya semua itu.

Kalo lagi sakit emang paling enak pas ada ibu ama bapak di deket kita. Dulu waktu gue masih kecil, ibu yang paling sering cerewet kalo gue sakit, dan ketika bapak lihat kondisi gue, biasanya doi kolaborasi bareng ama ibu gue, untuk mencerewetin gue mumpung lagi sakit, alhasil gue tambah sakit. Eh, maksud gue tambah berat penderitaan gue gitu; udah nggak enak badan, sekarang tambah nggak enak ati juga, tapi ajaibnya justru cerewetnya bapak ama ibu waktu gue sakit yang bikin gue pengen segera sembuh.

read more »

Senin, 26 Januari 2009

Seandainya Gue di Palestina

oleh enuy

gaulislam edisi 066/tahun ke-2 (29 Muharram 1430 H/26 Januari 2009)

Bro en Sis, dunia Islam tengah berselimut duka. Elo masih ingat kan soal Gaza? Yup, kalo inget Gaza, gue juga jadi inget dengan beberapa bait puisi ini: …Yesterday, the soldiers smashed/Lena’s sink and tub and tiles/ They whipped a father in front of his sons/Ages 2 and 4/ They do this all the time/ The house filled with water/ They locked the door on the crying boys/ Taking the father/ Believe me Lena says/ They had no reason…

Naomi Shihab Nye dalam puisinya Passing the Refugee Camp ngegambarin pembantaian yang saban kali terjadi di tanah asalnya, Palestina. Asal tau aja nih, guys, Palestina emang udah jadi killing field-nya Israel sejak tahun 1948. Mengerikan memang. Herannya, bertahun-tahun konflik Palestina nggak pernah selesai-selesai. Kalo kalian pada bilang, “udah deh, ngapain capek-capek mikirin Palestina yang jauh di sono. Gue aja lagi banyak masalah neh… cos raport barusan banyak pelajaran yang nggak tuntas, ada angka merahnya lagi!” Jujur neh, gue malah mikir gimana caranya buat nyetop aksi genocide terhadap rakyat Palestina yang emang udah mengarah ke cleansing muslim. Ah, seandainya gue di Palestina… 

read more »

Senin, 19 Januari 2009

Madu dan Racun di Televisi

oleh enuy

edisi 065/tahun ke-2 (22 Muharram 1430 H/19 Januari 2009)


Gimana, masih seneng nonton tivi? Apa yang kamu tonton? Sinetron? Pantes aja Cinta Fitri, Cinta Indah, Cinta Mutiara, Cinta Bunga, lalu juga ada Intan, Candy, Mutiara, Lia, dan masih seabrek nama tokoh yang dipakai demi mendongkrak rating sinetron. Yupz, kamu semua pasti sudah langsung ngeh bahwa semua nama di atas itu adalah judul sinetron Indonesia yang meskipun berbeda-beda namun satu jua. Satu tema cerita, jalan cerita bahkan ending cerita. Bukan tak mungkin pemainnya juga sama meski beda-beda judul.

Sejenak kemudian, mengikuti laris manisnya Ayat-ayat Cinta, sinetron Indonesia sedikit berubah haluan. Kenapa sedikit? Karena bau reliji sudah mulai tampak dari judulnya. Mulai Munajah Cinta, Assalamu’alaikum Cinta, Zikir Cinta, Ta’aruf, Muslimah dan masih banyak judul lain yang mendompleng istilah Islam. Judul boleh Islam, isinya nggak beda dengan dengan yang bukan Islam. Mulai rebutan harta, rebutan pacar (kalo yang judul Islam, rebutan suami), selingkuh, saling caci, teriak-teriak memaki, dan banyak contoh buruk lainnya.

read more »

Selasa, 13 Januari 2009

Hentikan Diam Kita!

oleh enuy

gaulislam edisi 064/tahun ke-2 (15 Muharram 1430 H/12 Januari 2009)

Bro, ketemu lagi ama gue. Kali ini gue bakalan nulisin lagi catatan harian di diary gue yang udah lecek dan kumal ini. Gue masih belum bisa ngelepasin emosi gue tentang kondisi saudara-saudara kita di Palestina, khususnya di Gaza. Sampai hari ini (Senin, 12 Januari) udah hari ke-16 Israel membombardir Gaza. Jumlah korban warga Palestina udah mencapai lebih dari 880 orang (dan yang luka-luka lebih dari 3000 jiwa). Kebanyakan dari korban adalah wanita dan anak-anak.. Tapi gue nyaksiin para pemimpin negeri-negeri Islam yang kawasannya deket dengan Israel cuma mampu diam. Nggak berbuat apa-apa.

Om Ahmadinejad, yang presiden Iran itu, belum juga ngirimin paket rudal berkepala nuklirnya ke Israel. Mesir? Ah, gue juga nggak percaya tuh sama presidennya. Namanya sih bagus, Husni Mubarak (baik dan diberkahi), tapi yang terjadi justru lebih memilih memblokade pintu masuk dari Mesir ke Gaza. Sehingga bantuan jadi tertahan di sana. Gue jadi kesel, maaf ya Pak De (idih, gue kok manggil doi Pak De?), gue ganti nama Anda jadi (Laa Husni Laa Mubarak alias nggak baik dan nggak diberkahi). Cobalah kirim tuh tentara Mesir ke Gaza. Lupakan Perjanjian Camp David. Itu masa lalu, Pak De. Israel harus digempur saat ini juga!

read more »

Tag:
Senin, 5 Januari 2009

Gaza (yang selalu) Berdarah

oleh enuy

gaulislam edisi 063/tahun ke-2 (8 Muharram 1430 H/5 Januari 2009)


Ah, gue kudu nulis lagi catatan harian dengan tema yang kesal dan marah. Kali ini gue kudu nulis di diary gue tentang kota kecil di sudut Palestina, Gaza namanya. Wilayah yang makin hari makin nyusut dicaplok Israel. Kalo elo nyari di peta dunia, nama negara Palestina nggak ada. Nama daerah itu diganti dengan Israel. Yup, Israel yang menjajahnya sejak 1948 dicantumkan sebagai negara yang berdaulat dan diakui secara internasional. Ah, ini pasti politik konspirasi, bro!

Bro, gue miris juga mo nulisin jumlah korbannya. Sampe kemarin aja, tanggal 3 Januari 2009, korban rakyat Palestina udah mencapai lebih dari 450 orang (belum termasuk ribuan yang luka-luka). Nggak tahu deh sekarang. Mudah-mudahan yang justru nambah banyak yang tewas adalah tentara Israel. Kalo mereka berani perang darat dengan mengerahkan tank-tank mereka, insya Allah rakyat Palestina, baik sipil maupun milisinya siap meremukkan mereka.

read more »

Tag:
Senin, 29 Desember 2008

Waktu Terus Berlalu, Kita Ngapain Aja?

oleh enuy

gaulislam edisi 062/tahun ke-2 (1 Muharram 1430 H/29 Desember 2008 )


Setelah mendapat kritik, kitik dan kripik dari tulisan gue yang pertama di gaulislam, gue masih berusaha keras untuk mencari adonan yang pas untuk tulisan-tulisan gue di gaulislam. Nah, artikel ini adalah salah satunya. Gue tulis dalam perjalanan Bogor-Sanggau (Kalimantan Barat), di antara ngejar pesawat yang keburu terbang saat gue nyampe di airport, di dalam mobil dalam perjalanan darat Pontianak-Sanggau yang aduhai dan dikala gue nyuci baju di dalem pesawat.

Waktu nggak kerasa sudah berlalu begitu cepat, ditambah cukup banyaknya perjalanan syafar yang gue lakukan di bulan ini, semuanya seperti berlalu begitu cepat, secepat kilat nyamber jemuran tetangga. Di jalan banyak gue temui hal yang menarik untuk ditulis, dari aspal jalanan yang berlobang-lobang kayak bekas hujan meteor, sampe pesawat yang hanya mau terbang kalo pilotnya udah siap (lha apa hubungannya ya?). Setiap kali memasuki akhir tahun seperti ini, cukup banyak hal yang membekas dalam ingatan gue, hari-hari yang biasanya mendung/hujan, kerjaan yang makin tinggi load-nya, sampai segala hal persiapan tahun baruan, huhuhuhu,… kenapa manusia-manusia ini ngga pernah berubah ya?

read more »

Tag:
Senin, 22 Desember 2008

Cintai Bunda, Yuk!

oleh enuy

gaulislam edisi 061/tahun ke-2 (24 Dzulhijjah 1429 H/22 Desember 2008)

Keisha (bukan nama sebenarnya) sebel banget ama bundanya. Gimana nggak sebel coba, bunda nyita hape kesayangan Kei. Gara-garanya, duit jajan jatah sebulan ternyata abis cuma buat beli pulsa terus uang SPP ditilep juga supaya tetep bisa jajan. Udahlah hape disita, bunda nyap-nyap tekdung tralala ngomelin Keisha. Keisha pun ngambek en ogah teguran ama bundanya.

Beda lagi ama Rio (lagi-lagi bukan nama sebenarnya nih). Doi seneng banget ngegodain cewek, hobinya ngelaba bahkan kadang lebih dari itu (waoow… maksudnya?). Ya sampe seks bebas gitu deh. Bundanya Rio ampe dibikin pusing tujuh keliling waktu ada cewek yang dateng dikawal kedua ortunya minta pertanggungjawaban Rio. Bundanya Rio ampe shock banget deh. Ampe pusing kok sampe punya anak lelaki kayak begitu. Emang salah apa ya waktu mengandung Rio? Perasaan nggak ada ngidam yang aneh-aneh deh… kayak minta ketemu ama Ariel ‘Peterpan’ gitu (Heh? Kapan lahirnya kalo ngidam minta ketemu Ariel?)

read more »

Senin, 15 Desember 2008

Amerika, Menurut Gue

oleh enuy

gaulislam edisi 060/tahun ke-2 (17 Dzulhijjah 1429 H/15 Desember 2008)

Gue mo nulis catatan harian gue yang terlanjur ditulisi dengan manis di halaman diary gue yang udah lecek. Gue sebenarnya males sih kalo disuruh ngurusin orang, apalagi tuh orang gemuk banget. Eh sori, maksudnya nggak mau deh mikirin urusan orang lain yang gue kagak tahu urusannya. Ibarat kata, mendingan bersihin rumah gue sendiri daripada mikirin gimana caranya ngebersihin rumah orang lain apalagi ikutan bersih-bersih di sono. Selain orang juga nggak mau terima privasinya diacak-acak ama gue, juga doi belum tentu mau nerima cara gue bersihin rumahnya. Iya nggak sih?

But, ke sini-sini telah terjadi perubahan besar dalam diri gue. Ciee.. kesannya gimana gitu. Selain terjadi perubahan dalam ukuran body, gue juga mulai mikir bahwa nggak selamanya mikirin urusan orang lain itu jelek. Emang sih, kalo urusan pribadinya mah gue setuju nggak perlu dikorek-korek sampe luka dan borok. Biarin aja dah. Tapi urusan orang lain yang dengan kelakuannya itu bikin repot semua orang, gue juga mesti mikirin akhirnya. Bila perlu bikin aksi nyata.

read more »