Ariani dalam kenanganku

oleh enuy

<!–[endif]–>

nur-ari-mamay1.jpgPertemuan dengan Ariani Tri Astuti pertama kali ketika masuk SMAKBo (Sekolah menengah Analis Kimia Bogor) tahun 1992. Saya dan Ari duduk satu kelas 1B. Wali kelasnya Bu Wiwi (istrinya Pak Mido). Kami makin akrab karena tinggal satu kos di Wisma Melati selama 4 tahun (kelas satu sampe kelas 4), kamarnya berhadap-hadapan. Kalo orangtua masing-masing nengok kami, kami sering berbagi makanan dan minuman, termasuk berbagi cerita.

Karena sering bersama akhirnya kami seperti satu hati. Maka, ketika di sekolah ada kegiatan pengajian saya dan Ari sama-sama ikut (meski kelas 1 itu pas ngaji belum pake kerudung), dan bahkan memutuskan mengenakan kerudung bersama-sama pada kelas 2. Tanggal 26 September 1993.

Sejak kelas 1 saya dan Ari ngaji dibina sama mbak-mbak angkatan 36: Mbak Dwi Nurhayati, Mbak Eulis Rosliani, Mbak Ernawati Baskar. Saya bahkan pernah main ke rumahnya waktu kelas 1. Nginep. Nah, pas nginep, kenangan paling lucu, adalah menyamarkan nama waktu nge-break (interkom) di rumahnya. Saya juga nyobain. Pake nama samaran gegep. Tahu nggak? Nama ini menurut saya dan Ari sangat lucu. Karena baru tahu kalo tang itu disebut gegep di Sunda. Itu waktu pegenalan alat di Laboratorium Gravimetri. 🙂

Oya, kenanangan lainnya, saya dari Ari ikut sanlat PERMATA (Pembinaan Remaja Muslim at-Takwin) yang juga memiliki majalahnya dengan nama sama. Acara sanlatnya di Megamendung, Puncak pada tahun 1994. Itu waktu liburan kenaikan kelas dari kelas 2 ke kelas 3.

Singkat cerita, kami sama-sama lulus dari SMAKBo tahun 1996. Saya kerja di Puslitbun (Divisi Bioteknologi Perkebunan) Bogor. Sementara Ari ngelanjutin kuliah di ITI (Institut Teknologi Indonesia) Serpong. Selama setahun itu (1997), kami masih ngaji satu halaqah bareng Ina, Sarah, dan Diah teman seangkatan di sekolah. Setelah itu, karena kesibukan Ari kuliah di ITI dan kegiataan lain (juga kesibukan saya di Bogor), akhirnya kami kehilangan kontak. Sampe saya menikah tahun 1999 pun saya nggak bisa ngabari Ari.

Saya baru ketemu Ari lagi tahun 2004. Ari waktu itu main ke rumah kami di Bogor. Setelah sebelumnya kami saling kontak via telepon yang saya dapatkan dari seorang teman. Sejak itu kami sering komunikasi lagi seperti biasa sampai beberapa waktu sebelum Ari meninggal dunia kemarin. Ari banyak cerita apa saja: tentang kerjaannya di Serang, tentang kegiatannya ngaji, segala hal yang menjadi rahasia kami berdua.

Ketika saya melahirkan anak ketiga, Ari bahkan dateng menemui saya dan memberi kado untuk anak saya. Saya terharu sekali.

Pada 17 Mei 2007, hari di saat Ari berbahagia di acara pernikahannya, saya sangat menyesal karena tak bisa hadir. Waktu itu, di hari yang sama, suami saya juga ngisi acara khutbah nikah teman satu kantornya. Sementara saya sendiri kesulitan jika harus pergi sendiri dengan 3 anak. Dengan waktu yang sangat singkat (dan jarak yang cukup jauh), saya harus memilih, dan pilihannya adalah tidak datang. Saya hanya mengirim SMS saja di hari bahagianya sambil minta maaf. Ari cukup memaklumi kondisi saya.

Awalnya, saya berharap bisa ketemu Ari pada 12 Agustus 2007 nanti di Senayan di acara Konferensi Khilafah Internasional. Tapi, ternyata Allah Swt. lebih dulu memanggil Ari untuk selama-lamanya dari dunia ini pada 30 Juli 2007 dalam kecelakaan lalu-lintas sepulang dari rumah orangtuanya bersama suaminya.

Sebenarnya pada tanggal 29 Juli 2007 pagi, saya bertemu teman-teman di sebuah acara di Masjid Raya Bogor. Ina, teman saya, malah bercerita tentang Ari yang ingin nyari kerjaan baru katanya. Meski dia sendiri sudah ngajar di Primagama Jakarta. Ya, katanya untuk mengisi kekosongan waktu aja setelah kerjaannya sebagai R&D di sebuah pabrik consumer goods di Serang ditinggalkannya dengan alasan tertentu.

Tapi pada senin, 30 Juli 2007, kabar tentang meninggalnya Ari saya dapat dari suami pada sore hari sepulang suami kerja. Suami saya ngabarin bahwa dia mendapat telepon dari adik kelas saya yang sedianya menelepon saya tapi hp saya tak aktif, jadi dia nelepon ke hp suami saya. Saya sempat ragu. Nggak nyangka. Untuk meyakinkan diri saya akhirnya nelepon Ina, teman saya, yang tadi siang di masjid pas ketemu itu cerita tentang Ari. Juga menelepon ke rumah ibunya. Baru deh, ketika ibunya Ari yang bilang langsung, saya jadi percaya banget.

Ya, barangkali ini hikmah bagi kita tentang usia kita. Kita tak bisa berbuat banyak jika urusannya dengan kehendak Allah. Semoga sahabat saya, Ariani, diterima iman dan amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, dan diberikan kelapangan di kuburnya. Semoga keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang dicintainya diberi kesabaran dan ketabahan. Amin.

Selamat jalan Ari. Semoga Allah Swt. mempertemukan kita di surgaNya kelak. Amin.

<!–[endif]–>

Sahabatmu,
Nur Handayani

Iklan

6 Komentar to “Ariani dalam kenanganku”

  1. Assalamu’alaikum wrwb..

    Jadi terharu rasanya baca cerita kenangan ini, semoga waktu yang tersisa untuk semua teman2 menjadi kenangan indah selamanya…
    Tentunya senantiasa menjadi ibadah terindah setiap saat…

    Salam untuk keluarga dirumah ya Nuy…

    Wassalamu’alaikum wrwb…
    Wahyu 38th

  2. Saya sangat terharu,…… gak nyangka semua kenangan terdokumentasi dengan baik….semoga semua kenangan menjadi suatu pelajaran yang berharga dikemudian hari….
    Selamat untuk semuanya…

    Wassalam
    Bobby

  3. Kenangan yang sangat bagus. Pastinya mbak ini sangat berkesan sekali dengan sahabatnya. Turut berduka cita mbak..

  4. Umur seseorang hanya Allah yang tahu, saat usia tua ada yang wafat.. bergumam hati.. ah itu mah biasa, tapi muda usia pun ternyata ada.. seumur bahkan lebih muda dari kita.. nah, barulah sadar (kembali.. ).. ya sadar kembali.. karena kesadaran ini ternyata mudah menguap ditelan kesibukan2 dunia.. Ya Rabb, ampuni kami semua… terlebih teman kami Ari.. amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: