<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nur Handayani</title>
	<atom:link href="http://nurhandayani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nurhandayani.wordpress.com</link>
	<description>sepanjang hidup adalah ibadah dan perjuangan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 10 Sep 2011 03:58:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nurhandayani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/e8bcc447c39babd7c2326df67f6f7d58?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Nur Handayani</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nurhandayani.wordpress.com/osd.xml" title="Nur Handayani" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nurhandayani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Potret Kearifan Lokal Masjid Mali</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/21/potret-kearifan-lokal-masjid-mali/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/21/potret-kearifan-lokal-masjid-mali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tahukah anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Di pelosok Mali masjid lumpur dan tanah liat lokal berukuran kecil merupakan pemandangan menakjubkan, khususnya bagi pecinta arsitektur. Mereka layaknya jaringan hidup yang tersisa dari arsitektur kuno. Tipe arsitektur vernakuler tersebut rupanya masih jarang didokumentasikan. Meskipun banyak yang menyoroti dan mengangkat budaya Sudan, seperti UNESCO, dan beberapa pembuat film dan buku dokumenter, namun masih jarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=199&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_234" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://nurhandayani.files.wordpress.com/2009/03/20090319164812.jpg"><img class="size-medium wp-image-234" title="20090319164812" src="http://nurhandayani.files.wordpress.com/2009/03/20090319164812.jpg?w=300&#038;h=219" alt="" width="300" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">MASJID FANABOUGOU: Salah satu masjid lumpur lokal di desa Fanabougou, Mali</p></div>
<p>Di pelosok Mali masjid lumpur dan tanah liat lokal berukuran kecil merupakan pemandangan menakjubkan, khususnya bagi pecinta arsitektur. Mereka layaknya jaringan hidup yang tersisa dari arsitektur kuno.</p>
<p>Tipe arsitektur vernakuler tersebut rupanya masih jarang didokumentasikan. Meskipun banyak yang menyoroti dan mengangkat budaya Sudan, seperti UNESCO, dan beberapa pembuat film dan buku dokumenter, namun masih jarang yang menyentuh masjid-masjid lokal lumpur kecoklatan tanpa nama di desa-desa negara itu. Bahkan tidak pula turis, yang kadang melewati masjid-masjid kecil itu, sebelum melihat keindahan arsitektur masjid di Djenne dan Timbuktu.<span id="more-199"></span></p>
<p>Seorang siswa fotografi asal Eropa, Sebastian Schutyser, menemukan keindahan dan kesederhanaan masjid-masjid lumpur lokal tersebut saat melakukan perjalanan dengan sepeda keliling Sudan (kini Mali) selama 1996 hingga 1997. Mengetahui benar kurangnya dokumentasi terhadap arsitektur membumi itu, ia pun memutuskan untuk melakukan proyek fotografi mendalam.</p>
<p><img class="alignright" style="border:0 none;" title="Masjid Desa Diakavel Mali" src="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Diakavel2.jpg" alt="" width="122" height="180" border="0" />Ia melakukan survey terhadap masjid khususnya di Delta Pedalaman Niger. Area ini merupakan pelabuhan bagi sejumlah besar masjid-masjid lokal&#8211;sekurangnya di 2.300 desa&#8211;dengan desain berbagai rupa. Menurut sejarah, area tersebut memainkan peranan penting dalam periode awal penyebaran Islam di Afrika Barat, demikan yang ditemukan oleh Sebastian dalam riset fotografinya.</p>
<p>Sebastian sendiri melakukan upaya keras lebih dari sekadar menambah stok perbendaharaan foto. Ia juga berusaha menangkap keaslian serta keindahan arsitektur yang dipandang sebelah mata tersebut. Dari hasil jepretannya, ia menemukan setiap masjid memiliki karakternya sendiri, ditentukan oleh morfologi dan permukaan struktur konstruksi bangunan.</p>
<p><strong>Tipologi Masjid Lumpur Cerminan Kesederhanaan Lokal<br />
</strong></p>
<p>Masjid-masjid di Afrika Barat merupakan deretan arsitektur masjid yang dianggap paling sesuai dan berhasil memenuhi standar arsitektur masjid yang diharapkan, terlepas dari sebagian besar tidak didirikan oleh arsitek, melainkan penduduk lokal. Di dalamnya terdapat kiblat yang ditandai oleh mihrab, menara masjid, interior dengan ruang utama  besar di batasi kolom-kolom, dan di saat yang sama, bentuk-bentuk tersebut menjadi penanda kuat era paska-Bizantium, awal kerajaan Islam.</p>
<p><img class="alignleft" style="border:0 none;" title="Masjdi Desa Wango, Mali" src="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Wango6.jpg" alt="" width="196" height="128" border="0" />Banyak pengama fotografer menganggap hasil karya Sebastian terlalu melebihkan dan menambah tampilan kualitas masjid sesungguhnya di sana. Terutama dari kesengajaan untuk meniadakan manusia dalam hasil jepretannya. Tapi langkah itu membuat orang lebih fokus terhadap material dan bentuk. Dua hal yang menjadikan desain masjid lokal terlihat unik, terutama sangat sesuai dengan konteks setempat, iklim gurun yang keras, dan budaya masyarakat, namun tetap mampu berfungsi seperti halnya masjid, yakni untuk bertemu dan beribadah.</p>
<p>Arsitektur masjid-masjid lumpur tersebut memang sangat terkait erat dengan arsitektur rakyat setempat. Materi-materi yang digunakan memiliki pertimbangan baik ekonomi dan kecocokan iklim yang luar biasa panas. Tanah liat dan lumpur dijadikan semen sekaligus plaster. Keterbatasan kayu serta harganya yang tinggi membuat penduduk menggunakan kayu palem sebagai penopang, kuda-kuda, sekaligus atap.</p>
<p><img class="alignright" style="border:0 none;" title="Masjid Desa Diakavel, Mali" src="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Diakavel.jpg" alt="" width="200" height="130" border="0" />Dinding dibuat tebal dan menipis keatas, cara untuk mencegah ruang di dalam menjadi panas plus mendukung struktur dua lantai, serta atap. Selama siang, dinding tebal itu akan menyerap panas dari luar, sehingga menjaga interior tetap sejuk. Ketika malam, udara panas disimpan dinding merembes ke ruang menjadikan udara dalam masjid hangat meski perubahan suhu udara gurun ekstrim terjadi di luar.</p>
<p>Beberapa struktur yang ditemukan konstruksi-konstruksi masjid juga memiliki ventilasi atap dengan penutup keramik. Biasanya keramik penutup ini dibuat oleh kaum wanita dan dapat dipindahkan di malam hari untuk aliran udara ke dalam ruang</p>
<p>Kayu-kayu palem yang dijadikan penopang dalam konstruksi bangunan tidak sekedar berfungsi sebagai balok, melainkan penopang permanen bagi pekerja yang setiap tahun memlaster ulang masjid-masjid tersebut dengan lumpur kala ferstival musim panas. Kayu palem tersebut juga meminimalkan tegangan beban yang dipicu temperatur ekstrim dan perubahan drastis kelembaban udara. Ciri unik lain masjid lumpur lokal adalah menara sering kali diberi penutup ujung spiral dengan telur burung unta di atasnya, menyimbolkan kesuburan dan kemurnian.</p>
<p><img class="alignleft" style="border:0 none;" title="Masjid Desa Doma, Mali" src="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Doma.jpg" alt="" width="186" height="280" border="0" /><strong>Proyek Foto Masjid Mali</strong></p>
<p>Proyek fotografi Sebastian dimulai pada 1998. Selama beberapa bulan ia berkelana dari satu desa ke desa lain dengan sepeda kayuh, dengan bantuan navigasi di atas pohon beserta peta berskala 1:200.000. Sebastian sendiri mengaku beruntung, area yang sebagian besar sulit diakses tersebut tak akan mungkin dimasuki tanpa bantuan warga setempat yang terkejut mendengar ia sedang mendokumentasikan masjid-masjid lokal milik mereka.</p>
<p>Dari 111 masjid yang ia jepret, ia memilih beberapa foto dan dicetak berukuran 94 x 120 cm untuk dipampang dalam pameran fotografi  <em>Maison Européenne de la Photographie</em> di Paris.</p>
<p>Kemudian pada Oktober 2001 hingga Maret 2002, Sebastian melanjutkan proyeknya atas bantuan dana dari Aga Khan Trust for Culture. Selain dalam format berwarna, Sebastian sengaja selalu membidik objek juga dalam format hitam putih, sehingga ia praktis memiliki dua macam koleksi. Kini total ia memiliki 515 koleksi fotografi masjid penduduk lokal Mali.</p>
<p>Tujuan Sebastian membidik dalam format hitam putih ialah untuk menghasilkan atmosfir modern, dalam arsitektur kuno rakyat setempat. Ia meyakini cara itu mampu mengangkat masjid-masjid tersebut di permukaan. Ia berharap usahanya akan mendorong para pakar melakukan kajian yang sudah seharusnya dilakukan./berbagaisumber/itz [republika]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=199&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/21/potret-kearifan-lokal-masjid-mali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurhandayani.files.wordpress.com/2009/03/20090319164812.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">20090319164812</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Diakavel2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid Desa Diakavel Mali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Wango6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjdi Desa Wango, Mali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Diakavel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid Desa Diakavel, Mali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://republika.co.id/images/news/new2009/3-Masjid-Doma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid Desa Doma, Mali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Katlin Hommik Terkesan Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/18/katlin-hommik-terkesan-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/18/katlin-hommik-terkesan-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 01:13:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Saat belajar Kristen ia justru dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak tanya. Ia baru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam Hidayatullah.com&#8211;Katlin Hommik nama gadis asal Estonia ini. Usia tiga tahun dia sudah banyak bertanya tentang Tuhan dan hidup setelah mati. Ketika Estonia masih dalam genggaman Sovyet, agama adalah hal tabu untuk dibicarakan. Begitupun, selepas Estonia merdeka Katlin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=192&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Saat belajar Kristen ia justru dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak tanya. Ia baru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam </em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong>Katlin Hommik nama gadis asal Estonia ini. Usia tiga tahun<img title="Katlin Hommik" src="http://hidayatullah.com/images/stories/katlin_thumb.JPG" border="0" alt="Katlin Hommik" width="138" height="207" align="right" /> dia sudah banyak bertanya tentang Tuhan dan hidup setelah mati. Ketika Estonia masih dalam genggaman Sovyet, agama adalah hal tabu untuk dibicarakan. Begitupun, selepas Estonia merdeka Katlin mencoba belajar ajaran Kristen di sekolahnya. Tapi dia dikeluarkan karena dianggap terlalu banyak bertanya tentang keberadaan Tuhan. Akhirnya dia memutuskan keluar dari Kristen dan mencari agama lain. Begitulah, bertahun-tahun mempelajari berbagai ajaran diapun menemukan Islam. Menariknya, dia memeluk Islam selepas sebulan penuh ikut berpuasa. Dia mengaku puasa Ramadhan telah membimbingnya masuk Islam. Berikut cerita Katlin dalam bahasa bertutur.<span id="more-192"></span></p>
<p align="center"><strong>0O0</strong></p>
<p>&#8220;Saat masih berumur tiga tahun, aku pernah bertanya pada ayah: &#8220;Apa yang nanti aku lakukan setelah mati, Ayah?&#8221; Kala itu ayah sangat terkejut mendengar pertanyaan dari anaknya yang masih berusia tiga tahun. Dia terlihat bingung harus memberi jawaban apa. Itulah awal pencarianku akan keberadaan Tuhan.</p>
<p>Di Estonia, terutama ketika masih berada di bawah kekuasaan komunis Sovyet, agama adalah barang tabu dan tak seorang pun diijinkan untuk berbicara di depan umum masalah agama dan keyakinan. Waktu itu berlaku opini bahwa hanya orang gila saja yang percaya akan Tuhan. Bagaimana mungkin percaya pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat? Astronot kami pergi ke angkasa luar dan mereka tidak melihat Tuhan duduk di atas awan. Karena itu Tuhan tidak ada! Begitulah opini yang berkembang saat itu.</p>
<p>Hidup dalam masyarakat serupa itu, tentu saja ayah tak mampu memberikan jawaban atas pertanyaan &#8220;aneh&#8221; yang kuajukan itu. Dia hanya menjawab ringan: &#8220;Anakku, ketika mati nanti kamu ya cuma tidur di dalam tanah&#8230;&#8221; Tak ada penjelasan lebih detil.</p>
<p>Selebih itu aku tidak pernah mendengar jawaban lain yang melawan pendapat ayahku. Sejak itulah aku berusaha mencari jawaban sendiri, meski baru berumur tiga tahun. Tapi, ternyata jalannya sangat panjang sekali. Perlu waktu bertahun-tahun. Aku selalu merasa Tuhan itu pasti ada kendati aku tidak mampu menyebut nama-Nya. Aku juga seakan merasa Dia selalu &#8220;mengamati&#8221; tindak tandukku.</p>
<p>Saat mulai masuk sekolah dasar, pertanyaan-pertanyaanku makin membuat ayah pusing hingga aku dihantarkan kepada nenek. Nenekku sendiri lahir di masa Republik Estonia pertamakali dicetuskan. Jadi dia masih merasakan kehidupan gereja pada saat usianya masih muda.</p>
<p>Neneklah yang pertamakali mengenalkanku cara memanggil Tuhan. Dia mengajarkan cara berdoa ala Kristen dengan menyebut &#8220;kepada Bapa kami di surga&#8221;. Uniknya, dia melarangku agar tidak mengucapkannya di depan khalayak ramai. Nanti ayah bisa dapat masalah besar. Begitu pesan nenek kala itu. Sejak itulah aku berniat untuk terus belajar ajaran Kristen dari nenek secara diam-diam.</p>
<p>Begitulah. Waktu pun berjalan cepat. Tepat di usia 11 tahun , persis di hari kemerdekaan dari Sovyet, aku masuk sekolah Minggu. Tahu tidak, mereka justru menolak kehadiranku!</p>
<p>Mereka berdalih aku terlalu banyak tanya. Kata mereka, keimananku telah rusak. Aku merasa heran, padahal semua pertanyaanku itu tak ada yang salah. Pertanyaanku rasional. Bagaimana mungkin ada anak Tuhan yang pada saat yang sama sekaligus bertindak sebagai Tuhan. Hingga guruku pun bingung.</p>
<p>Memasuki usia 15 tahun, aku makin intensif belajar ajaran Kristen secara otodidak. Aku mencari sendiri melalui literatur yang ada. Waktu itu aku masih menganggap aku ini orang Kristen. Tapi entahlah, pada akhirnya aku tak mampu bertahan. Aku tidak bisa menerima hal-hal tak rasional dalam ajaran Kristen. Aku memutuskan untuk mencari &#8220;sesuatu&#8221; yang lain. Nah setelah mempelajari berbagai ajaran agama, akhirnya aku pun menemukan Islam.</p>
<p>Selepas mengenal Islam, aku butuh waktu hingga tiga tahun untuk &#8220;mengenal&#8221; siapa aku ini sebenarnya. Aku selalu bertanya pada diri sendiri apa aku sudah benar-benar yakin jadi muslim. Apa aku sudah siap? Begitulah, akhirnya di usia yang ke-21 aku pun bersyahadah.</p>
<p>Aku memeluk Islam tepat beberapa hari selepas Ramadhan 2001. Ramadhan sangat menginspirasiku. Bulan puasa itu kurasakan begitu indah. Menjalankan ibadah puasa berarti sekaligus berempati kepada mereka yang tak berpunya. Jauh sebelum aku mengenal Islam, perasaan kasih antar sesama telah hadir dalam hatiku.</p>
<p>Aku sendiri masih bingung, kenapa aku bersyahadah setelah Ramadhan. Bukannya sebelum atau selama Ramadhan. Yang kuingat, aku berpuasa sebulan penuh. Aku berharap hal itu bisa menghapus segala &#8220;kotoran&#8221; dalam diriku dan masuk Islam dalam keadaan suci bersih. Begitu pemahamanku waktu itu.</p>
<p>Karena itu, tiap kita puasa jangan hanya memikirkan kapan datangnya waktu berbuka. Kapan waktunya bisa makan dan minum lagi. Kapan bisa merasakan enaknya masakan sang istri di rumah, dan lain-lainnya. Tapi seharusnya kita juga memikirkan nasib orang lain yang menderita, bukan hanya karena kekurangan makanan, tapi juga karena menderita &#8220;batin&#8221;  akibat belum mendapatkan petunjuk-Nya. Itulah esensi puasa.</p>
<p>Sebagai seorang muslim, kita harusnya benar-benar bersyukur sebab diberi waktu untuk berpuasa sekali dalam setahun. Harus kita yakini hal itu sebagai upaya untuk memperbaiki diri kita secara personal, jasmani dan rohani serta yang maha penting lagi untuk berbagi kasih sayang dengan sesama. Terutama kepada mereka-mereka yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran Islam, semoga mereka cepat mendapatkan hidayah Allah. Amiin.&#8221; [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/<a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=192&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/18/katlin-hommik-terkesan-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/katlin_thumb.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Katlin Hommik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Larangan Berhubungan dengan Jin</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/07/larangan-berhubungan-dengan-jin/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/07/larangan-berhubungan-dengan-jin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 01:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tsaqafah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah dakwatuna.com - Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-dzariyat: 56). Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat &#38; informasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=194&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a title="Profil dari Tim Kajian Manhaj Tarbiyah" href="http://www.dakwatuna.com/author/lkmt/">Tim Kajian Manhaj Tarbiyah</a></p>
<p><strong>dakwatuna.com -</strong> Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.</p>
<blockquote><p><em>Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (</em>Adz-dzariyat: 56).</p></blockquote>
<p>Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat &amp; informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.</p>
<blockquote><p>Katakanlah: <em>&#8220;tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah&#8221;, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. </em>(An-Naml: 65)</p></blockquote>
<blockquote><p><em>Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.</em> (Al-Jin: 26-28).</p></blockquote>
<p>Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.<span id="more-194"></span></p>
<p>Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.</p>
<p>Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:</p>
<blockquote><p><em>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</em> (Ar-Rum: 21).</p></blockquote>
<p>Makna &#8220;dari jenismu sendiri&#8217; adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.</p>
<p><strong>Beberapa Informasi tentang  Jin dari Al-Quran &amp; Hadits</strong></p>
<p>a.  Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia</p>
<blockquote><p>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).</p></blockquote>
<blockquote><p>خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. رواه مسلم</p>
<p>Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)</p></blockquote>
<p>Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.</p>
<p>b.  Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan</p>
<blockquote><p>Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: &#8220;Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).</p></blockquote>
<p>Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.</p>
<blockquote><p>Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).</p></blockquote>
<p>c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin</p>
<blockquote><p>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya &#8216;auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A&#8217;raf: 27).</p></blockquote>
<p>Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.</p>
<p>d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.</p>
<blockquote><p>Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).</p></blockquote>
<p>Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.</p>
<p>Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:</p>
<blockquote><p>وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا. رواه مسلم</p>
<p>Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)</p></blockquote>
<p>Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:</p>
<blockquote><p>Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).</p></blockquote>
<p>Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: &#8220;Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.</p>
<p>Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.</p>
<p>Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.</p>
<p>Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:</p>
<blockquote><p>Sulaiman berkata: &#8220;Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi&#8221;. (Shad (38): 35).</p></blockquote>
<p>Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na&#8217;udzu billah.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>1.    Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar<br />
2.    Al &#8216;Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah<br />
3.    Tafsir At-Thabari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=194&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/03/07/larangan-berhubungan-dengan-jin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaci Starbuck Bangga Jadi Muslimah</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/28/kaci-starbuck-bangga-jadi-muslimah/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/28/kaci-starbuck-bangga-jadi-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 01:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[cermin diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Perceraian orangtua membuat keluar dari Kristen. Kaci kemudian lebih memilih Islam dan bangga dengan jalan hidupnya yang baru Hidayatullah.com&#8211; Semasa remaja dia aktif di kelompok musik gereja. Kala orangtuanya cerai, ajaran Kristen mulai hilang dalam kehidupannya. Ketika masuk bangku perguruan tinggi dia pindah ke Winston Salem, North Carolina, AS untuk kuliah di Wake Forest University. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=196&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perceraian orangtua membuat keluar dari Kristen. Kaci kemudian lebih memilih Islam dan bangga dengan jalan hidupnya yang baru</em></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/cermin.jpg" border="0" alt="" align="left" /><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong> Semasa remaja dia aktif di kelompok musik gereja. Kala orangtuanya cerai, ajaran Kristen mulai hilang dalam kehidupannya. Ketika masuk bangku perguruan tinggi dia pindah ke Winston Salem, North Carolina, AS untuk kuliah di Wake Forest University. Di sanalah dia kenal seorang mahasiswa muslim yang tinggal seasrama dengannya. Islam kemudian menjadi jalan hidupnya. Uniknya, walau belum masuk Islam, dia bahkan telah aktif membantu organisasi Islam di kampus. Tak hanya itu, dia juga mencoba mengenakan kerudung. Dialah Kaci &#8220;Raihanah&#8221; Starbuck yang memeluk Islam pada 12 Juli 1997.</p>
<p>&#8220;Aku bangga jadi muslimah,&#8221; kata dia satu ketika. Apa dan bagaimana hingga dia bersyahadah dan akhirnya mengenakan jilbab secara sempurna? Berikut kisahnya.<span id="more-196"></span></p>
<p align="center"><strong>0O0</strong></p>
<p><img src="http://hidayatullah.com/images/stories/HijabIlus.gif" border="0" alt="" width="118" height="399" align="left" /> &#8220;Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen. Tapi aku tahu tentang Kristen justru setelah dibaptis di sebuah gereja. Saat itu usiaku masih sangat belia sekali. Di sekolah Minggu aku dapat pesan bahwa  jika kamu tidak dibaptis, maka kamu tidak bakal masuk neraka,&#8221; ujar Kaci memulai kisah uniknya.</p>
<p>Kaci mengaku waktu itu rela dibaptis untuk menyenangkan perasaan orang tuanya. &#8220;Satu hari, ayah dan ibuku masuk ke kamar dan meminta kesediaanku untuk dibaptis. Dia sangat berharap aku mau melakukannya. Akupun mau dan siap untuk dibaptis di gereja,&#8221; tukas Kaci.</p>
<p>Sebelum dibaptis dia musti menjawab beberapa pertanyaan. Kala ditanya: &#8220;Kenapa kamu mau dibaptis?&#8221; Kaci menjawab, &#8220;Karena aku cinta Yesus dan aku tahu Yesus juga cinta aku.&#8221; Begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan lain dijawabnya dengan lugas. Lalu diapun dibaptis dengan disaksikan sejumlah jamaah gereja.</p>
<p><strong>Anggota vokal grup gereja</strong></p>
<p>Masa-masa awal di gereja, begitu juga ketika masih di taman kanak-kanak, Kaci pernah jadi anggota vokal grup dan aktif di kegiatan misa mingguan. Kemudian, beranjak remaja, dia masuk dalam kelompok grup musik  &#8220;<em>young girls</em>&#8221; yang sering dapat undangan di berbagai kegiatan gereja dan juga aktifitas rohani lainnya di luar gereja.</p>
<p>&#8220;Waktu usia remaja aku sering dapat undangan seperti mengisi acara musik di perkemahan dan kegiatan rekreasi lainnya. Di dalam grup musik, aku dikenal saat itu sebagai yang &#8220;dituakan&#8221; dan  dijuluki &#8220;gadis pemain piano.&#8221;</p>
<p>&#8220;Beberapa tahun kemudian, kedua orangtuaku bercerai. Satu hal yang tak pernah kubayangkan dalam hidup ini akhirnya terjadi padaku. Kejadian ini sampai membuat agama Kristen tak lagi menarik bagiku. Waktu masih bocah, aku melihat keluarga seakan sempurna, tak ada cela. Ayahku adalah salah satu pengurus gereja. Orangnya sangat respek hingga semua jamaah kenal dia. Tapi beranjak remaja begini kejadiannya,&#8221; ungkap Kaci kecewa.</p>
<p>&#8220;Tahun-tahun berikutnya kulalui tanpa ayah. Aku, abang, dan seorang adikku pindah ke rumah ibu. Saat itu, ibu tak begitu aktif lagi ke gereja. Begitu pula dengan kedua saudaraku, mereka menganggap gereja tak penting lagi. Selama pindah ke rumah ibu, aku juga pindah ke sekolah baru dan ketemu banyak teman baru. Dan disana pula aku memulai kehidupan baru dalam hal agama. Aku jumpa dengan satu grup musik gereja di sana,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;Mereka bercerita tentang keyakinan yang ada di gereja mereka. Jemaah di gereja ini mengamalkan kitab Perjanjian Baru. Mereka tak pakai alat musik saat nyanyi di gereja. Hanya grup paduan suara. Gereja ini juga tak menggaji pendeta. Tapi orang tertua dalam jemaah yang meminpin setiap acara hari Minggu. Jemaah perempuan tidak boleh ceramah di gereja ini. Begitu pula dengan acara Natal, Paskah dan hari-hari libur lainnya, tak pernah dirayakan. Bagiku ini termasuk hal baru. Hingga aku mengira, apa dulu aku berada di jalan yang salah? Haruskah aku dibaptis lagi?,&#8221; imbuh Kaci panjang lebar.</p>
<p><strong>Kenal Islam </strong></p>
<p>Terhadap semua hal baru itu, Kaci curhat pada ibunya. Dia mengaku sekarang bingung dengan kontradiksi dalam ajaran Kristen. Tahun berikutnya, Kaci pun mulai kuliah di perguruan tinggi dan dia pun pindah ke kota Winston Salem, masih di North Carolina, AS. &#8220;Satu hari aku ketemu dengan seorang pemuda muslim yang juga tinggal se-asrama dengan aku. Dia cukup ramah dan kami sering terlibat tukar pikiran masalah keyakinan hidup,&#8221; kata Kaci yang kuliah di Wake Forest University.</p>
<p>&#8220;Satu sore, kami habiskan waktu hingga berjam-jam untuk berdiskusi tentang filosopi dan keyakinan hidup Islam. Alhasil, muncul pertanyaan dalam diriku: Apakah manusia dilahirkan dalam satu agama, dan hanya ada satu agama yang benar? Hari-hari berikutnya aku sering ketemu mahasiswa Islam ini dan melanjutkan diskusi kami yang belum tuntas. Namun, aku masih belum puas dengan jawabannya, yang menurutku masih menyentuh dasar Islam. Aku sendiri dapat memahami keterbatasan dia dalam menjelaskan Islam. Aku berupaya mencarinya sendiri,&#8221; imbuh dia lagi.</p>
<p>Ketika libur musim panas, Kaci memutuskan untuk kerja <em>part time</em> di sebuah toko buku. Di sana pula dia bisa &#8220;mengenal Islam lebih dekat.&#8221; Buku-buku Islam yang ada di toko buku itu dilahapnya. Dia juga bisa ketemu dengan seorang mahasiswa muslim lain yang juga belajar di kampus yang sama. Berbagai pertanyaan yang tersimpan sekian lama dalam kepalanya pun ditumpahkan. Rupanya si pemuda ini mampu menjawab setiap ada pertanyaan dari Kaci. Tak lama, Al-Quran pun jadi bacaan rutinnya. Tak hanya itu, Kaci juga mulai tertarik ke mesjid. Setidaknya, dia ada dua kali dalam seminggu ke mesjid setempat. Ada kebahagian yang mulai meretas dalam dirinya kala itu.</p>
<p>&#8220;Selepas mempelajari Islam sepanjang libur musim panas itu, aku mulai tersentuh dengan berbagai pernyataan dalam Islam. Pernah, aku coba ikut kuliah Perkenalan Islam di kampus. Waktu itu aku sedikit frustrasi, sebab dosen pengajar mata kuliah ini memberikan komentar yang menurutku salah. Tapi aku tidak tahu bagaimana mengoreksinya,&#8221; ungkap Kaci mengkritisi dosen yang bukan beragama Islam tersebut.</p>
<p><strong>Organisasi Islam</strong></p>
<p>Di luar aktifitas kuliah, diam-diam Kaci aktif terlibat sebagai anggota di sebuah organisasi sosial berafiliasi Islam. &#8220;Ya aku terlibat di <em>Islam Awareness Organization</em>. Aku satu-satunya anggota yang perempuan. Oleh anggota lainnya, aku masih sering disebut dengan  &#8220;gadis Kristen dalam kelompok kita&#8221;. Tiap ada pertemuan, ucapan itu pasti keluar. Entah kenapa, batinku tak suka disebut seperti itu. Padahal, aku melakukan segala sesuatu persis seperti apa yang mereka lakukan. Jadi, menurutku, aku seorang muslim juga,&#8221; tukas Kaci.</p>
<p>Kaci mengungkapkan bahwa dia sudah tidak makan babi lagi. Sudah berhenti mengkonsumsi alkohol. Bahkan kala Ramadhan dia juga ikut berpuasa. Yang menakjubkan, persis di akhir tahun pertamanya di universitas, terjadi perubahan dalam diri Kaci. Dia memutuskan untuk mengenakan kain kerudung penutup rambutnya!  &#8220;Aku tak ingin rambutku ini dilihat orang lain. Jika nanti menikah, hanya suamiku yang boleh melihatnya. Begitupun, aku belum berani memakai baju muslimah secara sempurna kala itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Chating di internet</strong></p>
<p>Satu hari Kaci mempelajari Islam melalui internet. &#8220;Aku juga mencari alamat <em>e-mail</em> orang-orang Islam. Maksudnya biar bisa jumpa seorang muslim yang bisa kuajak diskusi. Aku selalu menulis di surat elektronik dengan pesan tambahan &#8220;saya bukan sedang mencari jodoh &#8211; tapi hanya ingin mempelajari Islam,&#8221; kata dia.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, Kaci menerima balasan dari tiga orang muslim. Satu dari mahasiswa Pakistan yang sedang studi di AS, satu dari India tapi sedang belajar di Inggris, dan terakhir berasal dari muslim yang berdomisili di Uni Emirat Arab (UAE).</p>
<p>&#8220;Masing-masing mereka saling membantuku. Kami terlibat diskusi secara unik di tiga negara berbeda. Tapi akhirnya aku sering kontak dengan yang di Amerika. Karena kami dalam zona waktu yang sama. Jadi perbedaan waktunya tidak jauh berbeda. Jika aku kirim pertanyaan, maka dijawabnya dengan segera dalam rentang waktu yang sama. Jawaban-jawabannya pun rasional, masuk logika pikiranku.</p>
<p>&#8220;Dalam pandangan Islam semua manusia sama. Islam tak melihat warna kulit, usia, jenis kelamin, ras, suku bangsa, dan lainnya. Yang penting hatinya beriman kepada Allah,&#8221; kata dia kagum. Kaci terus mendalami Islam hingga dia sampai pada keyakinan bahwa Islam adalah agama pembawa kebenaran.</p>
<p>&#8220;Tiap ada kesulitan akan suatu perkara, maka aku langsung melihat jawabannya dalam Al-Quran. Aku juga makin merasakan nikmatnya persaudaraan dalam Islam. Bukan main,&#8221; akunya.</p>
<p><strong>Bersyahadah</strong></p>
<p>Niat Kaci untuk mengikrarkan <em>syahadah</em>nya pun makin mengental. &#8220;Aku mendeklarasikan <em>syahadah</em> di mesjid. Aku kini percaya hanya ada satu Tuhan [Allah swt] yang patut disembah. Satu hari di bulan Juli 1997 aku berbicara dengan seorang muslim via telepon. Aku bertanya banyak hal tentang cara masuk Islam dan dijawab dengan simpel sekali. Hingga aku pun memutuskan untuk ke mesjid esok harinya,&#8221; kisah Kaci lagi.</p>
<p>Keesokan harinya Kaci pun berangkat dari rumah kost nya di Wake Forest ke mesjid terdekat. Dia ditemani oleh dua orang teman baiknya. Satu muslim, satunya lagi non-muslim. Tapi, menariknya, dia tidak menceritakan pada mereka apa maksudnya ke mesjid.</p>
<p>&#8220;Aku cuma bilang mau diskusi dengan pak imam. Sesampai di mesjid, pak imam barusan memberi khutbah dan jamaah mulai shalat Jumat. Nah setelah semuanya beres baru aku bicara dengan beliau. Waktu itu aku tanyakan apa yang musti dilakukan seseorang yang ingin masuk Islam.  Sang imam menjawab bahwa ada beberapa hal dasar yang perlu dimengerti tentang Islam. Plus dua ikrar dua <em>kalimah syahadah</em>. Lalu aku beritahu pak imam bahwa aku sudah belajar Islam lebih dari setahun dan sekarang sudah siap jadi seorang muslimah. Tak menunggu lama, aku pun mengucapkan <em>kalimah syahadah</em>. Ya, tepatnya tanggal 12 Juli 1997 aku memeluk Islam.  <em>Alhamdulillah&#8230;</em></p>
<p><strong>Dipecat karena jilbab</strong></p>
<p>Kaci bangga dengan keislamannya. Ia terus belajar dan belajar. Termasuk dalam hal ibadah. &#8220;Mula-mula aku belajar tatacara shalat. Lalu mengikuti aneka aktifitas mesjid. Bahkan aku pergi ke banyak mesjid, seperti mesjid di Winston Salem, North Carolina. Yang paling menakjubkan, aku akhirnya berani memakai hijab secara sempurna, persis dua pekan setelah memeluk Islam. <em>Alhamdulillah</em>, selepas memeluk Islam, aku merasakan begitu banyak &#8220;pintu&#8221; yang terbuka. Semua itu terbuka dengan kasih sayang Allah,&#8221; pungkas Kaci yang kemudian mengganti namanya menjadi Raihanah.</p>
<p>Pernah satu ketika, di musim panas, dia bekerja <em>part time</em> di sebua toko tas. Waktu itu dia sudah mengenakan jilbab. Rupanya direktur perusahaan itu tidak suka dengan jilbab Kaci. &#8220;Dia minta aku untuk melepas jilbab jika ingin tetap bisa kerja. Tentu saja aku tidak mau. Akhirnya aku musti keluar dari tempat kerja alias dipecat.  Mereka mengira jilbab akan membatasi aku dan menganggap aku tidak bisa bekerja jika mengenakan jilbab. Tapi aku sendiri merasa bisa bergerak bebas kendati berjilbab. Tapi tak apa, aku tak menyesal. Aku bangga bisa jadi seorang muslimah,&#8221; cerita Kaci tentang sikap diskriminasi di tempat kerjanya.</p>
<p>Itulah langkah besar dalam perjalanan hidup Kaci &#8220;Raihanah&#8221; Starbuck. Ketabahan dan kekuatan imannya patut diacungi jempol hingga dia  mampu menjalani berbagai ujian selaku <em>muallaf</em> baru. Begitulah. [<strong>Zulkarnain Jalil</strong>/<a href="http://hidayatullah.com/">www.hidayatullah.com</a>] foto ilustrasi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=196&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/28/kaci-starbuck-bangga-jadi-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/cermin.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/HijabIlus.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Penelitian: Marah Lebih Memperpendek Usia</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/26/penelitian-marah-lebih-memperpendek-usia/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/26/penelitian-marah-lebih-memperpendek-usia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 03:52:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tahukah anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Percaya tidak, semakin sering Anda marah, semakin memperpendek usia Anda. Begitu kata para periset di AS dalam penelitan terbaru Hidayatullah.com-Para peneliti mengatakan, kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat memicu irama jantung mematikan. Riset sebelumnya memperlihatkan gempa bumi, perang atau kekalahan pada pertandingan sepakbola piala dunia dapat meningkatkan tingkat kematian akibat serangan jantung setelah irama organ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=175&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Percaya tidak, semakin sering Anda marah, semakin memperpendek usia Anda. Begitu kata para periset di AS dalam penelitan terbaru</em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com-</em></strong>Para peneliti mengatakan, kemarahan dan emosi tinggi lainnya dapat memicu irama jantung mematikan. Riset <img src="http://hidayatullah.com/images/stories/angry_thumb.jpg" border="0" alt="Ilustrasi" width="200" height="206" align="right" />sebelumnya memperlihatkan gempa bumi, perang atau kekalahan pada pertandingan sepakbola piala dunia dapat meningkatkan tingkat kematian akibat serangan jantung setelah irama organ tubuh vital ini berdetak terlampau cepat atau dengan ketinggian mematikan.</p>
<p>Kondisi tersebut berarti jantung berhenti mensirkulasi darah yang bisa membuat si pemilik jantung meninggal secara tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Kondisi tersebut diperlihatkan dalam cara berbeda saat Anda berada dalam kondisi tertekan yang memicu kematian mendadak,&#8221; kata dr Rachel Lampert dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS).<span id="more-175"></span></p>
<p>Riset diawali dengan memperhatikan bagaimana kemarahan bisa mempengaruhi sistim elektrik jantung. Lampert dan kolega-koleganya melakukan riset terhadap 62 pasien jantung dan menggunakan alat getar jantung yang dilekatkan ke tubuh mereka atau disebut ICD.</p>
<p>ICD bisa mendeteksi irama jantung atau &#8220;arrhythimia&#8221;, yang mengantarkan kejutan listrik guna memulihkan detak jantung normal.</p>
<p>&#8220;Mereka adalah orang-orang yang memiliki beberapa kecenderungan pada arrhythimia. Responden dalam riset ini diminta berolahraga untuk menghitung episod kemarahan mereka belakangan ini sementara itu tim Lampert melakukan tes yang disebut Pengatur Gelombang-T untuk mengukur ketidakstabilan listrik pada jantung.</p>
<p>Tim riset secara spesifik mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden guna mengingat kembali episod-episod kemarahan mereka.</p>
<p>&#8220;Kami dapatkan dalam seting lab bahwa rasa marah atau kemarahan bisa meningkatkan ketidakstabilan elektrik pada pasien-pasien ini,&#8221; kata Lampert.</p>
<p>Selanjutnya, tim riset memantau responden selama tiga tahun untuk menentukan pasien yang mendapat serangan jantung sehingga membutuhkan alat kejut jantung dari benda getar yang dilekatkan pada tubuh mereka.</p>
<p>&#8220;Orang-orang yang mengalami ketidakstabilan elektrik akibat kemarahan tinggi 10 kali kemungkinan besar dibanding lainnya yang mengalami gangguan arrhytmia,&#8221; tambah dokter tersebut.</p>
<p>Riset menunjukkan kemarahan bisa memicu kematian, setidaknya untuk orang-orang yang cenderung suka marah-marah sehingga menimbulkan gangguan listrik pada jantung.</p>
<p>Kemarahan dan stres juga bisa mempengaruhi orang jantungnya normal tapi caranya berbeda dibanding mereka yang memiliki ketidaknormalan pada salah satu organ tubuh vital tersebut. Kematian akibat jantung secara tiba-tiba mencapai lebih dari 400.000 setiap tahun di AS. [reuters/htb/www.hidayatullah.com]</p>
<p>Ilustrasi by sgchipman</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=175&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/26/penelitian-marah-lebih-memperpendek-usia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/angry_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riset: Fast Food Dekat Sekolah Akibatkan Anak Kegemukan</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/25/riset-fast-food-dekat-sekolah-akibatkan-anak-kegemukan/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/25/riset-fast-food-dekat-sekolah-akibatkan-anak-kegemukan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 03:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tahukah anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Restoran Fast-food yang berada di dekat sekolah menciptakan pelajar dengan kelebihan berat badan, demikian penelitian terbaru Hidayatullah.com&#8211;Siswa yang sekolahnya dekat dengan gerai fast food, mengonsumsi sedikit sayur-mayur dan buah-buahan, serta lebih banyak minuman bersoda, cenderung menderita kegemukan dibandingkan para siswa di sekolah lain, demikian menurut riset. Studi, yang melibatkan lebih dari 500,000 remaja sekolah menengah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=177&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Restoran Fast-food yang berada di dekat sekolah menciptakan pelajar dengan kelebihan berat badan, demikian penelitian terbaru </em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong>Siswa yang sekolahnya dekat dengan gerai fast food, mengonsumsi sedikit sayur-mayur dan <img src="http://hidayatullah.com/images/stories/junk_thumb.jpg" border="0" alt="Junk food efect" width="300" height="197" align="right" />buah-buahan, serta lebih banyak minuman bersoda, cenderung menderita kegemukan dibandingkan para siswa di sekolah lain, demikian menurut riset.</p>
<p>Studi, yang melibatkan lebih dari 500,000 remaja sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di California, meminjam &#8220;bahan bakar&#8221; baru untuk menyusun serangan balik menghadapi industri fast-food, seperti yang disimpulkan studi ini mengenai peranan industri fast-food dalam peningkatan epidemi obesitas di Amerika Serikat.</p>
<p>&#8220;Pada dasarnya kami menemukan bahwa  anak-anak yang bersekolah di dekat restoran fast-food memiliki kesempatan menderita kelebihan berat badan lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang bersekolah di tempat yang jauh dari restoran fast-food,&#8221; kata Brennan Davis dari Azusa Pacific University di California, yang studinya dipublikasikan di <em>American Journal of Public Health</em>.<span id="more-177"></span></p>
<p>Rata-rata tingkat obesitas kaum muda AS meningkat tiga kali lipat sejak 1980, walaupun di dekade ini tidak terjadi peningkatan. Pemerintah mengatakan 32 persen anak AS mengalami kelebihan berat badan dan 16 persen mengalami obesitas.</p>
<p>Kelompok konsumen telah mendorong dibuatnya undang-undang semacam July&#8217;s moratorium atas restoran fast-food di lingkungan tertentu di Los Angeles, sementara industri makanan sering menganggap bahwa kurang olahragalah yang seharus dipersalahkan.</p>
<p>Para peneliti mengatakan bahwa penelitian ini belum jelas apakah hasil penelitian mereka juga berlaku di negara bagian lain di AS, dan hal ini harus dipelajari lebih lanjut.</p>
<p>Namun studi mereka menambahkannya sebagai riset utama yang menunjukkan bila restoran fast-food cenderung berada di lingkungan dekat sekolah.</p>
<p>&#8220;Kita benar-benar membuat koneksi antara kedekatan fast-food dengan lokasi sekolah dan obesitas,&#8221; Davis mengatakan dalam wawancara telepon.</p>
<p>&#8220;Para siswa yang terlihat dekat dengan restoran fast-food memiliki body mass index (BMI) yang lebih tinggi-mereka dirasa lebih berat. Mereka cenderung lebih gemuk dan memiliki kelebihan berat badan,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Dalam studi, Davis dan kolega-nya mempelajari hubungan antara restoran fast-food yang terletak dalam radius satu setengah mil (80 km) dari sekolah dan mengenai obesitas diantara siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di California.</p>
<p>Mereka mengambil informasi data berat badan dan makanan dari survei sekolah seluruh negara bagian antara 2002 dan 2005 dan mereferensi-silang data tersebut dengan database dari rangkaian fast-food teratas yang berlokasi di dekat sekolah masing-masing.</p>
<p>&#8220;Secara keseluruhan, pola kami sesuai dengan gagasan di mana makanan fast food dekat sekolah mempengaruhi kebiasaan makan para siswa, kelebihan berat badan, dan obesitas,&#8221; tulis Davis dan koleganya.</p>
<p>Mereka juga menemukan bahwa para siswa yang bersekolah di dekat restoran fast food lebih sedikit mengonsumsi buah-buahan dan sayur-mayur dan minum jauh lebih banyak minuman bersoda dibanding para siswa yang tidak bersekolah di dekat restoran fast-food.</p>
<p>Studi tidak dapat menentukan mengapa restoran cepat saji yang berada di dekat sekolah memiliki dampak seperti itu, namun Davis berkata mungkin karena hal tersebut berhubungan dengan kemudahan mendapatkan burger, kentang goreng, dan tacos (semacam tortilla atau crepes yang diisi keju, sayur, daging, telur dan lain sebagainya).</p>
<p>&#8220;Restoran fast-food sungguh-sungguh tempat bagi orang-orang untuk bersosialisasi,&#8221; kata Davis.  [rtr/erb/<a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<p>Photo : nursinglink</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/177/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/177/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=177&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/25/riset-fast-food-dekat-sekolah-akibatkan-anak-kegemukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/junk_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Junk food efect</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muslim di Amerika: Sebuah Perjalanan dalam Pencarian</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/23/muslim-di-amerika-sebuah-perjalanan-dalam-pencarian/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/23/muslim-di-amerika-sebuah-perjalanan-dalam-pencarian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 04:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tahukah anda?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Diperkirakan ada 7 juta populasi kaum Muslim di Amerika Serikat (AS). Jumlah ini, diperkirakan akan terus bertambah Hidayatullah.com&#8211;Hailey Woldt mengenakan abaya hitam, mengharapkan sesuatu yang terburuk. Terakhir kali ia mengenakan busana Muslim dengan kerudung &#8211; yang menutup seluruh badannya kecuali wajah, tangan dan kaki &#8211; adalah ketika ia berada di bandara internasional Miami. Ketika itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=182&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Diperkirakan ada 7 juta populasi kaum Muslim di Amerika Serikat (AS). Jumlah ini, diperkirakan akan terus bertambah </em></p>
<p><strong><em>Hidayatullah.com&#8211;</em></strong>Hailey Woldt mengenakan abaya hitam, mengharapkan sesuatu yang terburuk. Terakhir kali ia mengenakan busana <img src="http://hidayatullah.com/images/stories/muslimamerica_thumb.jpg" border="0" alt="Muslimah America" width="292" height="219" align="right" />Muslim dengan kerudung &#8211; yang menutup seluruh badannya kecuali wajah, tangan dan kaki &#8211; adalah ketika ia berada di bandara internasional Miami. Ketika itu banyak orang yang menatapnya dan petugas keamanan memeriksa dirinya dengan seksama.</p>
<p>Kemudian, ia berada di sebuah kota kecil bernama Arab, Alabama.</p>
<p>&#8220;Saya berharap orang akan berkata, &#8216;sedang apa teroris ini di sini? Kami tidak ingin orang sepertimu berada di sini,&#8217;&#8221; kata Woldt, gadis katolik bermata biru berusia 22 tahun, mengingat sikap antisipasinya sebelum masuk ke sebuah kedai barbacue lokal. &#8220;Saya pikir, saya bahkan tidak akan dilayani.&#8221;</p>
<p>Eksperimen Woldt dalam bidang antropologi sosial itu membuka matanya. Disamping mendapatkan &#8220;tatapan awal&#8221; yang biasa diterima orang asing ketika memasuki pintu sebuah restoran di kota kecil, ia juga mendapat pengalaman yang menyenangkan.</p>
<p>Ketika ia menuju ke kamar kecil, cerita Woldt, &#8220;Seorang wanita terkejut [melihat dirinya], tapi ia kemudian tersenyum pada saya. Senyuman kecil itu sangat membahagiakan hati.&#8221;<span id="more-182"></span></p>
<p>Pengalaman tak terduganya itu merupakan salah satu kejadian yang ia alami dalam perjalanannya sekarang ini. Woldt adalah salah satu anggota tim yang terdiri dari pemuda Amerika berusia 20-an tahun. Tim itu dipimpin oleh seorang ilmuwan Muslim yang disegani. Mereka menjelajahi negara Amerika dalam sebuah misi antropologi. Tujuannnya: mendiskusikan identitas Amerika, identitas Muslim, dan mencari tahu seberapa baik negeri itu mengusung nilai-nilai idealnya pasca peristiwa 11 September.</p>
<p>Misi 6 bulan yang dimulai pada musim gugur itu dipimpin oleh Akbar Ahmed, Ketua Studi Keislaman di American University Washington. Motivasinya tidak sekedar bersifat akademis.</p>
<p>&#8220;Sebagai seorang ilmuwan sosial, sebagai seorang Muslim, adalah kewajiban moral untuk terlibat dalam menjelaskan, membicarakan, berdebat dan berdikusi tentang Islam,&#8221; papar Ahmed, 65. Ia mengambil cuti khusus selama 1 tahun untuk mengadakan perjalanan tersebut. &#8220;Setelah peristiwa 9/11, Islam menjadi agama yang paling sering dibicarakan, kontroversial, dibenci, dan salah dipahami di Amerika. Dan saya tidak bisa tinggal diam melihat hal tersebut,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Untuk itu Ahmed merancang sebuah proyek yang ditiru dari program Journey into America. Program &#8220;<em>voyage of discovery</em>&#8220;, begitu ia menyebutnya, adalah bagian dari program yang telah dilakukannya pada tahun 2006. Di mana ia bersama beberapa orang (di antaranya Woldt) mengadakan perjalanan ke negara-negara Islam. Di awal perjalanan mereka mengunjungi masjid, madrasah dan rumah-rumah orang Islam. Dari Syiria hingga Indonesia. Perjalanan tersebut menjadi dasar penyusunan buku Ahmed yang berjudul <em>Journey into Islam: The Crisis of Globalization.</em></p>
<p>Dalam perjalanannya baru-baru ini di Atlanta, Georgia, Ahmed mengatakan bahwa meskipun perjalannnya ke luar negeri bisa membantu menjawab banyak pertanyaan seputar bagaimana orang Amerika dipandang di manca negara, namun hal itu belum mampu memberikan gambaran yang utuh.</p>
<p>&#8220;Pertanyaan-pertanyaan orang Amerika tentang Islam tidak bisa dijawab tanpa mereka bercermin melihat dirinya sendiri dan melihat Muslim dalam konteks sebagai bagian dari kebudayaan dan masyarakat mereka,&#8221; terang Profesor Ahmed. Kelompok yang ia pimpin perlu berdialog dengan Muslim dan mencari tahu apa yang mereka ketahui tentang kebudayaan Amerika dan masyarakatnya. Dan bagaimana sebenarnya mereka menyesuaikan diri, berasimilasi atau berintegrasi &#8211; atau tidak &#8211; dengan lingkungan masyarakat Amerika yang lebih luas.</p>
<p>Untuk tujuan itulah, tim Ahmed berbaur dengan <em>rapper</em> Muslim kulit hitam di Buffalo, New York. Bertemu dengan orang-orang Latin yang beragama Islam di Miami, Florida. Dan mereka juga bertukar cerita dengan para pengungsi serta menjelajahi negeri-negeri yang berbeda seperti Bosnia, Afganistan dan Somalia.</p>
<p>Mereka juga telah menjelajahi Ellis Island di New York, pesisir Plymouth Rock di Massachusette. Menyusuri jalan-jalan yang gemerlap di Las Vegas, Nevada. Serta menyusuri jalan di negara-negara bagian di wilayah selatan.</p>
<p>Selama dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para akademisi, pemuka-pemuka agama, petugas penegak hukum dan para aktivis. Cerita tentang pertemuan dan kunjungannya ditulis di blog mereka.</p>
<p>Sejak beberapa tahun lalu perjalanan ini dirasa penting bagi seorang Frankie Martin. Ia seorang kristen Episcopalian berusia 25 tahun. Ayahnya seorang pegawai negeri. Ia dulu tinggal di Kenya ketika kedutaan-kedutaan Amerika di wilayah Afrika Timur dibom pada bulan Agustus 1998. Peristiwa itu menewaskan ratusan orang dan memunculkan isu tentang ancaman dari Al Qaidah dan Usamah Bin Ladin.</p>
<p>&#8220;Saya ingat, ketika kembali ke AS dan mencoba membicarakan tentang isu ini [yang berkaitan dengan Islam dan Barat], banyak orang tidak tahu apa-apa mengenai hal itu,&#8221; kata Martin. Kemudian terjadi peristiwa 11 September yang mengguncang AS. Saat itu ia mulai kuliah di American University. &#8220;Saya ingin tahu mengapa hal seperti itu bisa terjadi, dan apa yang bisa kita lakukan terkait hal tersebut&#8230;. Saya ingin belajar lebih banyak tentang dunia Muslim, memahami agama Islam dan membangun sebuah hubungan baik.&#8221;</p>
<p>Sebagian proses itu mengharuskan mereka untuk terjun langsung, berada di tempat yang belum pernah mereka masuki sebelumnya.</p>
<p>Pada parade Hari Muslim bulan Oktober di New York, Craig Considine, 23, ikut bergabung di tengah kelompok pemrotes/penentang, untuk melihat secara langsung dan merekam hujatan-hujatan yang dilontarkan. Di antara mereka ada yang menghina Rasulullah Muhammad sehingga membuat suasana semakin panas. Mereka saling menghujat satu sama lain.</p>
<p>Pemuda pembuat film itu tidak merasakan apa-apa hingga akhirnya ia minggir dan mematikan kameranya, kemudian berpikir.</p>
<p>&#8220;Kelompok yang menentang/memprotes dan kelompok yang menanggapi, keduanya adalah orang-orang Amerika. Dan mereka sama-sama gagal, tidak bisa saling memahami. Saya sangat kecewa. Seumur hidup belum pernah saya melihat kebencian seperti itu .&#8221; kata Considine.</p>
<p>Jonathan Hayden, 30, yang telah bekerja untuk Ahmed selama hampir lima tahun mengatakan bahwa peristiwa yang sederhana pun dapat memberikan pencerahan.</p>
<p>Ia menceritakan tentang sebuah pertanyaan mengharukan yang diajukan oleh seorang wanita dari wilayah Midwestern yang mengakui bahwa ia belum pernah berjumpa dengan seorang Muslim.</p>
<p>&#8220;Apakah mereka [orang Muslim] mencintai anak-anak mereka?&#8221; Heyden mengingat pertanyaan wanita itu. &#8220;Kami bisa menjawab pertanyaannya, ya mereka mencintai anak-anak mereka&#8230;. Namun, fakta bahwa wanita itu mengutarakan pertanyaan tersebut, memberikan gambaran yang banyak kepada kita.&#8221;</p>
<p>Tujuan utama kelompok itu adalah memberikan pencerahan akan perlunya memahami Islam. Sesuatu yang mereka harap bisa dipenuhi dalam buku yang akan ditulis oleh Ahmed dan sebuah film dokumenter yang akan mereka buat.</p>
<p>&#8220;Populasi Muslim di seluruh dunia adalah 1,4 milyar. Pada pertengahan abad ini, akan ada satu Muslim di antara empat orang. Sekarang ini ada 57 negera Muslim. &#8220;Pikirkanlah tentang jumlah dan angka tersebut,&#8221; kata Ahmed. &#8220;Amerika &#8211; sebagai negara superpower, sebagai pemimpin dunia &#8211; perlu untuk bisa berinteraksi positif dengan seperempat bagian masyarakat dunia itu.&#8221;</p>
<p>Ia memperkirakan ada 7 juta Muslim di AS sekarang ini, dan jumlahnya terus bertambah. Mimpi dan harapan mereka, Ahmed, dan yang lainnya adalah sudah pasti, tidak berbeda dengan mimpi dan harapan tetangga mereka yang lain.</p>
<p>Syeikh Salahadin Wazir, yang mengadakan jamuan makan malam bersama mereka dan mengundang kelompok itu untuk shalat Jum&#8217;at bersama, menghargai proyek tersebut.</p>
<p>&#8220;Sangat penting untuk mengetahui secara lengkap tentang Muslim dari perspektif orang Islam. Kami semua adalah warga negara yang terikat hukum. Kami profesional,&#8221; kata Wazir di pelataran Masjid Al Mukminin di Clarkson, Georgia. &#8220;Banyak anak-anak kami yang bersekolah, menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dan masa depannya cerah.&#8221;</p>
<p>Bagi Madeeha Hameed, 21, menjadi bagian dalam proyek ini merupakan sesuatu yang bersifat personal. Mahasiswa pada College of William &amp; Mary di Virginia ini mengambil cuti satu semester untuk melakukan perjalanan sebanyak mungkin, dan sekarang ia sudah kembali kuliah. Ia pindah dari Pakistan ke Virginia bagian Utara sebelum masuk sekolah menegah atas, yaitu sesaat sebelum peristiwa 11 September terjadi.</p>
<p>&#8220;Saat itu sangat sulit keadaannya buat saya&#8230; Anda tahu bagaimana suasana di sekolah menengah atas,&#8221; katanya. &#8220;Saya tidak ingin dikenali sebagai seorang Muslim atau orang Pakistan, karena saya ingin bisa bergaul. Saat itu saya sangat kecewa dengan identitas saya.&#8221; Setelah membaca buku tulisan Profesor Ahmed, dan berkesempatan untuk turut serta dalam perjalanan kelompoknya, &#8220;Sangat membantu untuk bisa menerima identitas saya,&#8221; katanya. Dan ia pun bisa semakin menghargai apa yang ada di sekitarnya. Ia melanjutkan, &#8221; Ada banyak hal mengenai negeri ini dan mengenai Islam, yang tidak saya tahu dan pahami sebelumnya.&#8221;  [cnn/Dija/<a href="http://hidayatullah.com/" target="_blank">www.hidayatullah.com</a>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=182&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/23/muslim-di-amerika-sebuah-perjalanan-dalam-pencarian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hidayatullah.com/images/stories/muslimamerica_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Muslimah America</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Engkau Bersujud Kepada-Nya</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/20/agar-engkau-bersujud-kepada-nya/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/20/agar-engkau-bersujud-kepada-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 04:18:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya Oleh Mohammad Fauzil Adhim * Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=188&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya </em></p>
<p>Oleh <strong>Mohammad Fauzil Adhim</strong> *</p>
<p>Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah &#8216;Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia sedang mengagungkan asma Allah, engkau lahir di dunia ini. Nyaris tanpa pertolongan. Tetapi pertolongan siapakah yang lebih baik daripada pertolongan Allah? Sesungguhnya, sebaik-baik penolong adalah Allah. Maka kelak, ingat-ingatlah bahwa hanya kepada-Nya engkau menyembah dan meminta pertolongan.</p>
<p>Hayatilah setiap kali engkau membaca &#8220;<em>IyyaKa na&#8217;budu wa iyyaKa nasta&#8217;in</em>. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.&#8221;</p>
<p><em>Nak&#8230;</em></p>
<p>Ada lagi yang membuatku memberimu nama As-Sajjad. Engkau lahir di hari pertama bulan Ramadhan. Ketika itu ibumu baru saja selesai sahur, ketika ia merasakan tanda-tanda kelahiranmu, Nak. Engkau lahir di bulan yang paling penuh barakah; bulan yang di dalamnya terdapat satu malam dengan kemuliaan yang melebihi seribu bulan. Di bulan itulah, Nak Al-Qur&#8217;an diturunkan. Dan di bulan itu pula engkau dilahirkan.<span id="more-188"></span></p>
<p>Sungguh, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka ketika kelak engkau mulai bisa memikirkan untuk apa engkau diciptakan, perhatikanlah langkahmu dan renungilah mengapa Allah takdirkan engkau lahir di bulan yang suci; di bulan yang manusia dan para malaikat mengagungkannya; sementara syaithan dibelenggu oleh Allah &#8216;Azza wa Jalla. Di bulan itu, manusia belajar menahan diri -tak sekedar menahan lapar dan dahaga-agar mereka meraih derajat takwa.</p>
<p>Maka, aku sungguh berharap ini menjadi pelajaran bagimu untuk belajar menahan diri, bukan karena ingin mendapat penilaian manusia, tetapi agar meraih kecintaan Tuhanmu.</p>
<p>Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari Allah Yang Maha Menciptakan, hanya demi meraih kecintaan dari makhluk-makhluk-Nya. Sesungguhnya selain Allah adalah fana. Betapa banyak orang yang mengikrarkan cintanya dan tak lama sesudah itu ia mengingkari ikrarnya sendiri. Betapa banyak orang yang mengaku mencintai saudaranya dengan tulus, padahal yang mereka cintai hanyalah parasnya. Cinta itu awalnya meluap-luap, dan setelah dimakan usia, tak tahu lagi kemana cinta harus dicari. Jika engkau mencari cinta mereka, mungkin mereka akan mengelu-elukanmu ketika ada yang bisa didapatkan darimu. Tetapi sesudah itu, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu.</p>
<p>Sungguh, telah banyak berlalu ummat-ummat sebelum kamu. Maka berjalanlah di muka bumi, dan lihat kesudahan orang-orang terdahulu. Telah banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras untuk memperoleh tepuk tangan dan decak kagum manusia, tetapi sesudah masa bertukar dan zaman berganti mereka tak lagi dikenali. Dan sesudah itu, sebagian di antara mereka terpuruk oleh kesedihannya sendiri, dan sebagian lainnya tersadar sehingga segera berlari kepada Allah.</p>
<p><em>Alangkah fana, Anakku. Alangkah fana&#8230;. Maka apakah engkau akan sibuk mengejarnya?</em></p>
<p>Sementara apabila engkau meraih kecintaan Tuhanmu, Anakku, Ia akan memaklumkan kecintaan-Nya kepada para malaikat. Lalu para malaikat itu akan memaklumkan kecintaan itu kepada hati manusia, sehingga mereka berbondong datang kepadamu sekalipun engkau bersembunyi di balik goa. Mereka datang kepadamu dengan penuh kecintaan, dan kecintaan itu datang dari Tuhanmu. Mereka akan siap melindungimu dan membantumu, kapan saja. Tetapi jangan engkau keliru menyangka, sehingga menganggap mereka sebagai penolongmu.</p>
<p>Tidak.</p>
<p>Sekali-kali tidak. Sesungguhnya tidaklah mereka menjadi penolongmu melainkan karena Allah semata.</p>
<p><em>Anakku&#8230;</em></p>
<p>Kunamakan engkau Muhammad Husain As-Sajjad agar  engkau bersujud kepada-Nya. Sujudkan badanmu agar engkau termasuk golongan orang-orang ahli &#8216;ibadah. Sujudkanlah hatimu agar engkau menjadi seorang mukmin; seorang yang mengimani-Nya dengan lurus. Sujudkanlah pikiranmu agar engkau termasuk golongan ulil-albab.</p>
<p>Sujudkanlah jiwamu agar engkau menjadi seorang yang mencapai derajat ihsan, karena engkau senantiasa berada pada situasi seakan-akan engkau melihat Tuhanmu. Dan apabila engkau tidak melihat Tuhanmu, engkau yakin dengan sepenuh hati bahwa Ia mengawasimu.</p>
<p>Sujudkan pula harta dan duniamu, agar tidak pernah menguasai hatimu. Sesungguhnya harta itu letaknya dalam genggamanmu. Bukan pada hatimu. Apabila harta itu engkau letakkan di tanganmu, maka engkau akan ringan hati membelanjakan di jalan-Nya. Tetapi apabila harta itu engkau simpan dalam hatimu, maka sedikit saja yang berkurang, akan dapat menggelisahkan dirimu sehingga dengan itu justru harta yang sedang mendekat kepadamu, akan berlari sejauh-jauhnya.</p>
<p><em>Husain Anakku&#8230;.</em></p>
<p>Sesungguhnya harta yang akan menjadi milikmu kelak di Yaumil-Qiyamah adalah yang engkau belanjakan di jalan yang benar. Setiap keping yang engkau jadikan shadaqah, ia akan tetap menjadi milikmu sampai Hari Kiamat. Setiap keping yang engkau bayarkan sebagai zakat, ia akan menjadi pembelamu di hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah semata.</p>
<p>Setiap keping yang engkau belanjakan untuk keluargamu, untuk anak-anak yatim, untuk jihad fii sabilillah, untuk amar makruf nahy munkar, untuk mengongkosi perjalananmu melakukan kebaikan, maka ia tetap menjadi milikmu dan senantiasa berlipat kebaikannya hingga engkau berjumpa di Hari Akhir kelak. Ia akan mengantarmu ke surga atas perkenan-Nya. Insya-Allah.</p>
<p><em>Tetapi, Nak&#8230;</em></p>
<p>Karena sekeping uang pula manusia bisa terhalang dari Tuhannya. Tidaklah disebut pendusta agama orang yang pendek-pendek do&#8217;anya dan ringkas shalatnya. Tidak.</p>
<p>Tetapi tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya&#8217; dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Begitu peringatan Tuhanmu dalam surat Al-Maa&#8217;uun. Kelak engkau bisa membacanya dalam Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Hanya Do&#8217;a Yang Kupinta Apa yang kuharapkan dengan pesan-pesan ini, Anakku?</p>
<p>Aku sayangi dirimu sejak engkau belum dilahirkan; Aku tunggui persalinan ibumu hingga terdengar tangismu; Aku bersihkan darah yang mengiringi kelahiranmu dengan tanganku sendiri; Aku temani masa-masa bayimu dengan membacakan do&#8217;a di telingamu; Aku ciumi dirimu sebagaimana Rasulullah saw. mengajarkan; Dan aku nanti engkau beranjak besar, lalu kutulis pesan ini, tidak lain hanyalah berharap engkau kelak menjadi orang shalih yang memberi bobot kepada bumi ini dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Betapa pun bapak dan ibumu hanya dua orang yang lemah imannya, lemah ilmunya dan lemah jiwanya. Tidak ada kekuatan kecuali semata-mata dari-Nya.</p>
<p>Besarnya pengharapan inilah yang menjadi kekuatan  bapak ibumu dalam mengasuh dan membesarkanmu. Kalau kemudian kelak engkau menjadi anak yang shalih -dan bapak ibumu senantiasa berharap dengan penuh kesungguhan-maka tidak ada yang lebih berharga untuk diharapkan darimu melebihi do&#8217;a-do&#8217;a yang engkau panjatkan dengan tulus kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla bagi kedua orangtuamu ini. Harapan inilah yang membuat bapak ibumu bersedia mengorbankan apa saja, termasuk kesehatan, asalkan kelak engkau termasuk di antara waladun shalihun yad&#8217;ulah. Anak shalih yang mendo&#8217;akan.</p>
<p>Inilah yang senantiasa merisaukan orangtuamu, Anakku, bagaimana mengantarkan engkau menjadi waladun shalihun yad&#8217;ulah. Jika engkau termasuk anak yang shalih, maka setiap perbuatanmu dapat menjadi kebaikan bagi orangtuamu. Dan jika engkau mendo&#8217;akan bapak ibumu, maka Allah akan bukakan pintu-pintu kebaikan.</p>
<p>Kebaikan itu akan terus mengalir apabila engkau mendo&#8217;akan, sekalipun bapak ibumu telah berselimut kain kafan.</p>
<p>Tetapi sekedar mendo&#8217;akan, Anakku&#8230; tanpa ada keshalihan yang mengiringi do&#8217;a-do&#8217;a itu, rasanya akan sia-sia. Sebab, seperti yang engkau baca, anak-anak yang bisa menambah catatan kebaikan bagi kedua orangtuanya sesudah kematian menjemputnya adalah anak-anak shalih yang mendo&#8217;akan. Ini berarti engkau harus menjadi manusia shalih ketika mendo&#8217;akan.</p>
<p>Tanpa keshalihan, do&#8217;a itu akan melayang begitu saja.  Apalagi do&#8217;a itu bukan engkau sendiri yang mengucapkan. Dan betapa banyak kulihat, di kala seorang anak Adam meninggal dunia, para tetangga mendo&#8217;akan si mati, sementara anak-anaknya mengaminkan pun tidak. Mereka menyibukkan diri dengan makanan yang akan dihidangkan.</p>
<p>Sungguh, sesuatu yang absurd. Lebih-lebih di antara para pendo&#8217;a itu terkadang ada yang menjadi ahli maksiat. <em>Wallahu a&#8217;lam bishawab.[www.hiyatullah.com]</em></p>
<p><strong><em>Penulis adalah kolumnis majalah Hidayatullah</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=188&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/20/agar-engkau-bersujud-kepada-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengamalkan Teori Ukhuwah (2)</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/15/mengamalkan-teori-ukhuwah-2/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/15/mengamalkan-teori-ukhuwah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 04:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tsaqafah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Drs. DH Al Yusni Menumbuhkan Perasaan Kolektif dakwatuna.com- Seusainya perang Badar petugas logistik mengamati pejuang-pejuang Islam yang terluka. Sambil diobati juga diberikan makan atau minum yang dibutuhkannya. Saat sedang melayani orang-orang yang memerlukan bantuannya. Petugas ini mendengar ada suara orang yang meminta air karena rasa haus yang mencekik. Petugas tersebut mendatanginya. Namun ketika akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=186&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/12/genggam-tangan1.jpg"><img class="alignright" title="genggam-tangan1" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/12/genggam-tangan1.jpg" alt="" width="250" height="220" /></a><strong></strong></p>
<p><span class="postedby">Oleh: <a title="Profil dari Drs. DH Al Yusni" href="http://www.dakwatuna.com/author/al-yusni/">Drs. DH Al Yusni</a></span></p>
<p><strong>Menumbuhkan Perasaan Kolektif </strong></p>
<p><strong>dakwatuna.com-</strong> Seusainya perang Badar petugas logistik mengamati pejuang-pejuang Islam yang terluka. Sambil diobati juga diberikan makan atau minum yang dibutuhkannya. Saat sedang melayani orang-orang yang memerlukan bantuannya. Petugas ini mendengar ada suara orang yang meminta air karena rasa haus yang mencekik. Petugas tersebut mendatanginya. Namun ketika akan dituangkan pada mulut orang itu terdengar pula suara orang yang juga berhajat pada air. Lalu orang pertama yang membutuhkan air itu berujaar pada petugas logistik itu. &#8220;Berikan air itu padanya, dia lebih membutuhkannya ketimbang diriku!&#8221;. Maka petugas itu segera menemui orang kedua itu. Akan tetapi ketika akan diminumkan air, orang kedua ini mendengar ada arang lain yang juga membutuhkannya. Orang keduapun mengatakan, &#8220;Berikan air itu padanya dia lebih butuh daripada saya&#8221;. Petugas itupun segera mencari-cari sumber suara tadi. Rupanya orang ketiga yang membutuhkan air ketika ia jumpai sudah meninggal dunia. Secepat kilat peetugas itu mendatangi orang kedua tadi. Akan tetapi keduapun telah meninggal dunia. Iapun berlari menjumpai orang pertama. Begitupun orang pertama, ia dapati telah meninggal dunia.</p>
<p>Itulah kisah manusia yang diabadikan sepanjang sejarah. Mereka ditautkan oleh perasaan kolektif pada dirinya masing-masing. Perasaan bahwa saudaranya adalah dirinya. Merasa sakit apabila saudaranya sakit. Dan bahagia bila saudaranya bahagia. Saudaranya adalah cermin sejati bagi dirinya. Perasaan kolektif ini bagaikan saraf yang memadukan aneka ragam organ dalam tubuh. Dengan itu setiap organ mempunyai investasi pada satu gerakan organ lainnya.<span id="more-186"></span></p>
<p>Ukhuwwah merupakan wujud perasaan kolektif dalam bermuamalah antar manusia. Ia menyatukan irama hati dari bermacam-macam orang. Ia akan menjadi harmonika yang merdu dalam sebuah simponi. Alunan simponi yang indah ini dapat menjadi suatu kekuatan besar dalam membangun umat.</p>
<p>Umar bin Khaththab menangis terisak-isak tatkala ia mengetahui ada rakyatnya dirundung kelaparan. Umar mengangkat sendiri bahan pangan untuk rakyatnya yang sedang menderita.</p>
<p>Khalifah Sulaiman Al Manshur tidak bisa berdiam diri ketika ia mendengar ada seorang muslimah yang teraniaya di Byzantium. Khalifah mengajak rakyat untuk membebaskan wanita tersebut.</p>
<p>Hasan Al Banna memberikan sokongan yang besar atas perjuangan bangsa Indonesia mengusir kolonial Belanda. Al Imam menerima kunjungan para diplomat Indonesia dengan antusias dan mengajak para pemimpin Mesir untuk turut mendukungnya. Demikianlah pengakuan M. Hasan Zein penulis Diplomasi Revolusi di Luar Negeri.</p>
<p>Itulah perasaan kolektif menjadi gelombang besar yang dapat menggerakkan sebuah kekuatan umat. Akan tetapi perasaan kolektif ketika manusia hidup dengan sikap dan gaya individualistik. Sikap ini menjadi barang langka yang jarang ditemukan.</p>
<p>Sikap individualistik mendorong manusia bersikap acuh tak peduli pada urusan orang lain. Bahkan pada urusan yang bersifat hidup matinya seseorang. Tidak mengherankan pada pergaulan masyarakat di hari ini tidak lagi mempedulikan apa yang dialami orang lain. Sebelah rumahnya sedang kesusahan ia tidak mengetahuinya. Tetangganya sedang merenggang nyawa ia tidak mendengarnya.</p>
<p>Tidaklah aneh saat ini apabila orang mengenal tetangganya bukan ketika bercengkerama di rumahnya, melainkan ia mengetahui tetangganya itu di tempat yang jauh dan terjadi pada kurun waktu yang cukup lama setelah bertetangga.</p>
<p>Dalam sebuah pesta besar, ada seorang pria terheran-heran pada kenalannya di pesta itu. Pasalnya, kenalan barunya itu adalah tetangga sebelah rumahnya. Padahal mereka telah lama hidup saling bertetangga. Aneh memang tapi begitulah gaya hidup masa kini.</p>
<p>Islam memandang buruk sikap demikian. Karena perasaan kolektif menjadi bukti keimanan. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjalin perasaan kolektif ini. Ia adalah nadi dari geliat umat ini</p>
<p>Rasulullah SAW. bersabda: &#8220;Tidak beriman salah seorang diantaramu apabila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri&#8221;. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Bagi kader dakwah perasaan kolektif ini tidak boleh berhenti denyutnya. Berhentinya akan berdampak pada lambannya mobilitas kader untuk mengemban tugas mulia. Juga akan kehilangan kendali arah sehingga alur roda itu berputar tanpa arah. Setiap kader wajib merawat dan meningkatkan perasaan kolektif ini agar ia tumbuh, berkembang dan berbuah.</p>
<p><strong>Ukhuwwah, Bahasa Amal</strong></p>
<p>Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisah tentang tukang sol sepatu yang menunda pergi hajinya karena uang yang dipersipakan untuk berangkat ke Baitullah Al Haram diberikan pada tetangganya yang kelaparan. Namun banyak teman-temannya yang berangkat menunaikan ibadah haji melihat tukang sol sepatu itu berada di tanah suci. Dalam mimpi Ibnul Mubarak rahimahullah, tukang sol sepatu itulah orang yang termasuk diterima ibadah hajinya oleh Allah SWT.</p>
<p>Kisah diatas tentu bukan persoalan maqbulnya ibadah haji yang dilakukannya. Akan tetapi yang saya maksudkan disini adalah sikap arif tukang sol sepatu itu. Sikapnya yang penuh perhatian pada nasib tetangganya, nasib saudaranya sesama muslim. Ia rela menyerahkan harta yang ia kumpulkan dari jerih payahnya berbulan-bulan kepada saudaranya sesama muslim.</p>
<p>Begitulah bahasa amal. Ia merupakan amalan bukan sekedar teori. Artinya sikap itu dilakukan secara refleks tidak perlu kalkulasi yang amat teliti. Tukang sol sepatu itu tahu betul apa yang mesti diputuskan pada saat-saat yang tepat.</p>
<p>Ukhuwwah adalah bahasa amal bukan bahasa teori atau konsep. Sikap ini pancaran kebiasaan yang berasal dari sinar keimanan. Sinar keimanan yang lahir dari pembiasaan watak dan prilaku para pemiliknya. Karena itu, sikap ini tidak dapat dihambat oleh berbagai kalkulasi material. Ia begitu lancar untuk bertindak cepat memutuskan pilihan-pilihan sulit baginya. Ia tidak mempedulikan keuntungan apa yang bakal diperoleh malah ia rela mendapatkan kerugian bagi dirinya asalkan saudaranya meraih kebahagian atas sikapnya. Subhanallah, teramat indah bahasa amal itu.</p>
<p><strong>Dari Mana Kita Memulainya</strong></p>
<p>Seorang teman berbinar-binar matanya menyiratkan rasa haru dalam hatinya. Ia mengatakan baru saja menerima telepon dari kawannya yang menanyakan kabar berita tentang diri dan keluarganya. &#8220;Saya senang dan terharu, sekian lama saya tidak pernah mendengar berita kawan saya. Tiba-tiba, kali ini dia menyampaikan kabar beritanya dan menanyakan keadaan saya. Rasanya tali yang putus kembali tersambung&#8221;. Ungkapnya gembira.</p>
<p>Bila kita melihat cerita pengalaman seorang teman tadi. Sepertinya sederhana sekali untuk menyambung lagi tali persaudaraan yang nyaris putus. Dengan menanyakan kabar teman di seberang telepon hubungan itu kembali hangat. Kehambaran itu sirna dengan segera.</p>
<p>Rasulullah SAW. memberikan resep sederhana untuk dapat mengikat kembali tali-tali yang putus hingga dapat menghimpun hati-hati yang retak. Beliau mengatakan: <em>&#8220;Sebarkanlah salam, berikanlah makan dan dirikanlah shalat malam&#8221;.</em> Resep ini memang terkesan sangat simple.</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, menyebarkan salam. Dalam kegiatan ini bisa dijabarkan dengan bermacam-macam perlakuan, diantaranya bertanya bagaimana kabarnya, keluarganya, isteri dan anaknya?. Baik-baikkah mereka. Bagaimana mereka selama ini. Adakah yang sakit. Adakah yang mendapatkan musibah atau adakah diantara mereka yang telah dianugerahi Allah kebaikan yang dapat menyenangkan orang banyak. Dapat saling mendoakan keadaan masing-masing agar meraih kemudahan dalam menjalani aktifitas hariannya serta mendapatkan karunia dari Allah sehingga meredam rasa berat dalam menerima ujian dan cobaan hidup. Dan banyak lagi segudang ungkapan untuk memulai menyebarkan salam antar sesama kader.</p>
<p>Inti masalahnya adalah bagaimana menyebarkan salam itu menjadi sebuah media komunikasi antar sesama kader agar tetap terjalin dengan baik, sehingga mereka tidak kehilangan informasi dan kendali arah. Komunikasi yang harmonis dibangun atas dasar hubungan manusiawi yang utuh dari berbagai dimensi bukan pada hubungan formalitas apalagi hiasan bibir semata.</p>
<p>Menjalin komunikasi yang harmonis ini menjadi kebutuhan asasi masyarakat modern, karena dengan komunikasi ini manusia menemukan eksitensi dirinya sebagai makhluk yang multi dimensional. Makhluk yang dihargai oleh lingkungan sekitarnya. Saat ini banyak kita temukan orang yang kehilangan rasa, termasuk rasa dalam berkomunikasi ketika bergaul antar sesama. Makanya banyak orang berupaya mencari tempat kongkow-kongkow hanya sekedar mendapatkan sebuah tali komunikasi yang tidak diikat oleh formalitas kehidupan. Sehingga mereka bisa berbicara dan tertawa lepas yang selama ini tidak mereka temukan karena masih dirasakan terdapat dinding pembatas hati mereka.</p>
<p>Komunikasi yang harmonis bagi masyarakat barat amat mahal, karena selama ini mereka menjalani kehidupan ini secara mekanik. Melakoni satu babak kehidupan ke babak berikut bagai mesin yang rutin berputar. Tanpa seni yang menyentuh ruang hati manusia yang paling dalam. Kondisi ini membuat mereka berupaya untuk menemukan format baru dalam berkomunikasi dengan sesama. Diantaranya mereka mengadakan pasar loakan setiap hari libur sebagai sarana mereka berkomunikasi. Mereka bisa saling tawar menawar suatu harga barang yang selama ini mereka jualbelikan dengan mesin atau robot. Mereka dapat saling menyapa untuk menanyakan dimana tinggalnya, dari mana asalnya, sudah berapa lama tinggal di daerah itu dan sapaan lainnya. Dari saling menyapa itulah hubungan yang kaku diantara mereka mencair seketika, akhirnya mereka begitu akrab satu sama lainnya.</p>
<p>Abbas Asisi salah seorang murid Hasan Al Banna selalu membuka komunikasi dengan banyak orang yang ia jumpai. Melalui komunikasi itulah ia membuka peluang dakwah di hati mitra bicaranya. Bahkan pernah ia kesulitan dengan apa memulai berkomunikasi kepada orang yang ada di hadapannya. Namun ia menemukan juga jalan ke arah itu. Yakni ia menginjak kaki orang tersebut sehingga orang itu memarahinya. &#8220;Apa matamu buta?, mengapa kamu injak kaki saya&#8221;, hardik orang tersebut. Abbas Asisi menjawab, &#8220;Maaf tuan, mata saya memang rabun sehingga saya tidak begitu jelas melihatnya&#8221;. Dengan pengakuan itu orang tersebut malah meminta maaf atas ucapannya tadi lalu perbincangan akhirnya berlanjut pada tema-tema lainnya yang kemudian menyentuh tema-tema dakwah.</p>
<p>Begitulah mumpuninya komunikasi dalam bergaul antar sesama yang dapat meluluhkan hati-hati yang keras membatu. Orang bijak mengatakan, &#8216;<em>berkomunikasilah karena ia seni kehidupan</em>&#8216;.</p>
<p>Seorang sahabat merasa tersanjung ketika Rasulullah SAW jalan beriringan di sampingnya sambil beliau menanyakan keadaannya. Sikap ini menunjukkan betapa manisnya pergaulan yang dilakukan Rasulullah SAW. kepada sahabatnya begitupun sebaliknya.</p>
<p>Media berkomunikasi saat ini sangat banyak apalagi kemajuan teknologi dapat menunjang pelaksanaannya. Berkomunikasi dapat dilakukan melalui silaturrahmi atau mengunjunginya. Dengan mengunjungi kita dapat menuangkan berbagai suasana hati. Dapat saling bertatap muka, saling bertegur sapa dan saling mengekspresikan ruat wajah yang dapat disaksikan oleh mitra bicara.</p>
<p>Berziarah atau mengunjungi saudaranya yang muslim merupakan sebagian tanda keimanan. Karena ia adalah hak sesama muslim. Dengan mengunjungi kita dapat berkomunikasi dan berbagi perasaan, pengalaman, pelajaran serta berbagi lainnya.</p>
<p>Rasulullah SAW. bersabda : &#8220;Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia silaturrahim&#8221;. (HR. Muslim)</p>
<p><em>Dan komunikasi dapat pula dilakukan lewat piranti teknologi canggih sekarang ini, bisa melalui telepon, internet, email, surat atau media-media lainnya. </em></p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>memberi makan (hadiah). Hadiah pertanda penghargaan dan kasih sayang. Ia wujud atensi yang dalam. Karenanya hadiah jangan dipandang dari nilai nominalnya akan tetapi lihatlah bahwa adalah ekspresi kecintaan.</p>
<p>Rasulullah SAW. bersabda: &#8220;Salinglah berbagi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai&#8221;. (HR. Tirmidzi)</p>
<p><em>Hadiah sebagai media mengungkapkan kata hati pada seseorang dalam kondisi tertentu. Maka tidaklah naif memberikan hadiah yang sepertinya tidak begitu bernilai. Sebab ia adalah bentuk visualisasi dari atensi yang besar. Oleh karena itu tidak perlu merasa malu untuk memberikan hadiah yang tidak mewah atau mahal. Malah dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ada seorang sahabat Nabi SAW. yang memberikan hadiah berupa sekerat kurma kepada saudaranya, Nabi SAW. mendengar berita itu tersenyum bahagia. Duhai mulianya ia yang mau memberikan hadiah meski kondisi hidupnya dalam kesulitan.</em></p>
<p><em>Memang alangkah bagusnya bila mampu memberikan hadiah yang menarik serta bernilai lebih. Apalagi hadiah yang diberikan kepada saudaranya sangat ia sukai.</em></p>
<p><em>Firman Allah SWT.</em></p>
<p>&#8220;Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya&#8221;. (QS. Ali Imran: 92)</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, melaksanakan shalat malam (doa). Persoalan hati manusia adalah persoalan yang penuh misteri. Hati merupakan ruang yang luas lagi dalam. Ia bagaikan samudera lepas. Sedikit sekali manusia yang dapat menyelami samudera hati.</p>
<p>Muamalah antar manusia juga bagian dari gerakan hati. Ia akan terkait tatkala hatinya sudah tertambat. Ia akan terurai ketika hatinya liar. Permasalahannya tampaknya rumit dan jelimet. Akan tetapi menjadi sederhana ketika conecting langsung pada pemiliknya. Dialah Allah Pemilik hati manusia yang mampu membolak-balikan gerakan hati secara dratis.</p>
<p>Menjalin hubungan langsung pada si Empunya hati manusia secara rutin dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menghimpun aneka ragam hati manusia. Bahkan Dia dapat mengendalikan hati-hati yang liar. Hubungan dengan Sang Penakluk Hati diantaranya dapat diwujudkan dengan panjatan do&#8217;a untuk diri dan saudaranya.</p>
<p>Do&#8217;a menjadi media perantara untuk merajut hati yang retak. Melancarkan sumbatan-sumbatannya. Untuk mencapai sasaran tersebut, Hasan Al Banna mengajak para pengikutnya untuk membaca do&#8217;a Rabithah selepas mengikuti majelis pertemuannya. Sebagai upaya mendayagunakan kekuatan do&#8217;a untuk mengikat dan menyatukan hati manusia. Disamping itu agar hati yang kering lagi tandus menjadi basah dan subur.</p>
<p>Semua resep sederhana diatas akhirnya berpulang pada satu kalimat<em>. Ibda&#8217; binafsik</em>. Mulailah dari darimu sendiri. Artinya setiap individu segera untuk memulainya, menjadi pelopor. Tidak perlu menunggu orang lain memberi aba-aba untuk memulainya. Apalagi menanti siapa yang akan memulainya. <em>We are first begining</em>. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=186&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/15/mengamalkan-teori-ukhuwah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/12/genggam-tangan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">genggam-tangan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengamalkan Teori Ukhuwah</title>
		<link>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/14/mengamalkan-teori-ukhuwah/</link>
		<comments>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/14/mengamalkan-teori-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 04:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enuy</dc:creator>
				<category><![CDATA[tsaqafah islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurhandayani.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Drs. DH Al Yusni dakwatuna.com - Seorang teman saya pernah menceritakan keheranannya terhadap teman-teman pengajiannya. &#8220;Saya bingung pada mereka, guru mereka ada di rumah sakit sudah beberapa pekan, namun mereka belum mengunjungi juga&#8221;, keluh teman tadi. &#8220;Apa anda tidak mengingatkan mereka tentang keadaan guru kalian&#8221;, ungkap saya. &#8220;Tidak tahulah saya pada mereka. Sepertinya mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=184&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="postedby">Oleh: <a title="Profil dari Drs. DH Al Yusni" href="http://www.dakwatuna.com/author/al-yusni/">Drs. DH Al Yusni</a></span></p>
<p><strong>dakwatuna.com -</strong> Seorang teman saya pernah menceritakan keheranannya terhadap teman-teman pengajiannya. &#8220;Saya bingung pada mereka, guru mereka ada di rumah sakit sudah beberapa pekan, namun mereka belum mengunjungi juga&#8221;, keluh teman tadi. &#8220;Apa anda tidak mengingatkan mereka tentang keadaan guru kalian&#8221;, ungkap saya. &#8220;Tidak tahulah saya pada mereka. Sepertinya mereka sibuk sekali pada urusannya masing-masing&#8221;, jawabnya lirih. &#8220;Apakah sesibuk itu mereka hingga seredup itu perasaan kemanusiaannya&#8221;, selidik saya.</p>
<p>Lain waktu saya berkesempatan mengunjungi rumah seorang teman sambil membawa sedikit bingkisan. Rupanya dia sangat gembira sekali dengan kunjungan saya ini. &#8220;Saya bersyukur sekali hari ini. Pertama, mendapatkan kunjungan dari antum, setelah lama tidak ada teman yang mengunjungi saya. Rasanya saya seperti terlempar dari pergaulan teman-teman. Tapi dengan kunjungan ini saya merasa ditarik kembali. Kedua, antum membawa bingkisan. Barang kali bingkisan itu kecil nilainya tapi sangat berarti bagi saya. Karena sudah beberapa hari keluarga saya hanya memakan ubi-ubian&#8221;. Paparnya. Saya terharu sekali mendengarkan pemaparan yang memilukan itu. Timbul pertanyaan besar: Kemana teman-temannya?<span id="more-184"></span></p>
<p>Pengalaman diatas sebenarnya mungkin banyak sekali kita jumpai dengan beraneka ragam cerita. Semuanya akan berujung pada tanda tanya, sebegitu redupkah tali persaudaraan yang kita miliki saat ini. Sebegitu keringkah telaga ukhuwwah sesama kader dakwah.</p>
<p>Keadaan ini menjadi perhatian dalam diri saya apakah ini sebuah fenomena ataukah kasuistik saja. Memang kita harus akui bahwa kekeringan ruhaniyah di hati kader akan berakibat kekeringan dalam muamalah antar mereka. Muamalah yang kering merupakan preseden buruk bagi pembentukan opini publik tentang manisnya ukhuwwah Islam. Serta buramnya potret keindahan tatanan dan prilaku masyarakat Islam di masa lalu bila dipraktekkan pada zaman kiwari.</p>
<p>Potret ukhuwwah islamiyyah yang telah dilakoni para pendahulu menggores kesan mendalam yang teramat indah bagi peradaban manusia. Bagaimana tidak?, seseorang rela mati demi saudaranya. Mereka lebih memilih lapar bagi dirinya daripada saudaranya yang lapar. Mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri mereka sendiri meskipun mereka teramat membutuhkannya. Mereka sangat menjaga kehormatan dirinya ketimbang harus menjadi orang yang rakus lagi terhina.</p>
<p>&#8220;Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keingan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung&#8221; (QS. Al Hasyr: 9)</p>
<p>Berbicara ukhuwwah memang tidak sekedar teori melainkan nilai-nilai mulia yang mesti diimplementasikan dengan jiwa besar. Karena ia bukan hanya ucapan melainkan ia adalah amalan. Bahkan bukan sekedar amalan biasa tetapi amalan yang dikaitkan dengan kondisi keimanan pelakunya.</p>
<p><strong>Iman Landasan Persaudaraan Islam</strong></p>
<p>Ukhuwwah islamiyah tidaklah sama dengan cita rasa humanisme seperti yang difahami banyak orang. Sehingga mereka melakukan suatu kebaikan lantaran faktor humanisme, tidak dikaitkan dengan nilai-nilai moralitas yang tertanam dari benih ideologi samawiyah. Akan tetapi ukhuwwah islamiyyah merupakan manivestasi keimanan pelakunya. Keimanan yang stabil senantiasa memproduk amal khairiyah dan merealisasikannya dalam bentuk nyata tatkala bermuamalah dengan banyak manusia, sebaliknya keimanan yang labil dapat menghambat produktifitas amal tersebut.</p>
<p>Hubungan personal ketika bermuamalah pada sesama muslim memang tidak diikat pada simpul-simpul kesatuan aktifitas manusia dalam kesehariannya. Mereka tidak disatukan karena motivasi materi, kesukuan, kondisi temporer yang mereka alami. Melainkan hubungan mereka diikat oleh keimanan. Keimananlah yang menjadi pijakan muamalah mereka. Keimanan ini melandasi hubungan mereka yang teramat indah itu. <em>Wihdatul aqidah</em> itulah jawabannya. Menjadi kewajiban setiap kader untuk membangun bangunan keimanan yang kokoh agar dapat merefleksikannya dalam berinteraksi antar sesama.</p>
<p>Ketika banyak orang mengaitkan sikap persaudaraan pada nasab, kesukuan, kedaerahan serta ashabiyah lainnya. Rasulullah SAW. menepisnya dengan mengatakan: &#8220;Salman adalah keluargaku&#8221;.</p>
<p>Nyata betul prinsip Islam ini. Tidak tidak dapat dibatasi oleh dinding setebal apapun. Karena keimanan yang menjadi landasannya juga tidak dapat dibatasi oleh batasan apapun. Karena itu pancaran persaudaran berasal dari cahaya keimanan si pemiliknya.</p>
<p><strong>Kepekaan Ukhuwwah</strong></p>
<p>Keimanan yang selalu bersinar terang akan menyalakan kepekaan ukhuwwah. Hasasiyah ukhuwwah ini akan semakin dinamis bila dilakukan dua arah. Sehingga semua pihak menahan diri untuk hanya menikmati ukhuwwah orang lain. Akan tetapi masing-masing pihak berupaya untuk dapat menyenangkan khalayak sekitarnya. Menjadi kepuasan bagi dirinya apabila kelebihannya dapat dicicipi oleh banyak orang.</p>
<p>Lihatlah sejarah manusia-manusia pilihan yang telah mengukir indahnya peradaban orang-orang yang beriman. Mereka tidak bakhil pada orang lain akan kelebihan dirinya. Mereka tidak pula celamitan pada kebaikan orang lain. Mereka merasa bahagia apabila orang lain merasakan kebaikannya. Dan mereka terhina apabila orang lain terepotkan lantaran dirinya .</p>
<p>Pagi-pagi Rasulullah SAW. tersenyum melihat seorang sahabat yang telah membuktikan sikap ukhuwwahnya pada saudaranya yang lain. Beliau mendapatkan informasi bahwa sahabat tersebut menjamu tamunya dengan hidangan yang diperuntukkan keluarganya. Agar tamunya berselera menyantap hidangannya, dia matikan lampu rumah sehingga makanan yang disajikan tidak tampak pada sang tamu. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan rasa sungkan tamunya untuk menyantap makanan tersebut. Lantaran porsi hidangan yang tersedia hanya cukup untuk seorang. Untuk menyenangkan hati tamunya, tuan rumah berpura-pura sedang menyantap makanan tersebut bersama-sama dengan lahap. Sikap inilah yang mendapatkan senyuman malaikat dan membuat senang hati Rasulullah SAW.</p>
<p>Juga ketika Rasulullah SAW. membangun Madinah sebagai sentral aktifitas muslim, beliau mempersaudarakan sahabat Muhajirin dan Anshar. Diantaranya Abdurrahman bin Auf RA. dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi&#8217;i RA. Dengan hati yang tulus Saad bin Rabi&#8217; mengatakan: &#8220;Aku memiliki beberapa perniagaan silahkan ambil yang kau cenderungi. Dan aku mempunyai beberapa isteri silahkan lihat mana yang menarik hatimu. Akan aku ceraikan dia dan nikahilah setelah selesai masa iddahnya&#8221;. &#8220;Semoga Allah senantiasa memberkahi dirimu dan keluargamu, terima kasih atas penawaranmu. Akan tetapi lebih baik bagiku tunjukkanlah padaku dimana pasar?&#8221;. Jawab Abdurrahman bin Auf RA.</p>
<p>Betapa manisnya kehidupan orang-orang yang beriman. Mereka dapat memposisikan dirinya secara tepat. Mereka dapat merasakan kesusahan dan kebahagiaan saudaranya. Mereka tahu betul apa yang mesti dilakukan untuk orang lain. Mereka merasa bersedih apabila tidak mampu berbuat banyak untuk orang lain. (bersambung)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurhandayani.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurhandayani.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurhandayani.wordpress.com&amp;blog=1358246&amp;post=184&amp;subd=nurhandayani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurhandayani.wordpress.com/2009/02/14/mengamalkan-teori-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">enuy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
